Tampilkan postingan dengan label BUCE MALAWAU (1985-1991). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUCE MALAWAU (1985-1991). Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Februari 2011

BUCE MALAWAU 1985-1991

BUCE MALAWAU


Buce Malawau (lahir di Magelang, 24 Januari 1949) adalah seorang sutradara Indonesia di era tahun 1980an, Ia berhasil menyutradarai dua aktris yang dinominasikan sebagai peran pembantu terbaik di Festival Film Indonesia yaitu Lia Chaidir dalam film "Tragedi Bintaro" pada tahun 1989 dan Ully Artha di film "Potret" pada tahun 1991. Buce sendiri pernah dinominasikan sebagai pemeran pembantu terbaik dalam film "Tragedi Bintaro" pada tahun 1989 dan "Potret" 1991.

GERHANA 1985 BUCE MALAWAU
Director
BERI AKU WAKTU 1986 BUCE MALAWAU
Director
LUKA DI ATAS LUKA 1987 BUCE MALAWAU
Director
MEPAT BREWOK DARI GOA SANGGRENG 1988 BUCE MALAWAU
Director
TRAGEDI BINTARO 1989 BUCE MALAWAU
Director
CINTA ANAK JAMAN 1988 BUCE MALAWAU
Director
POTRET 1991 BUCE MALAWAU
Director
KETIKA DIA PERGI 1990 BUCE MALAWAU
Director.

EMPAT BREWOK DARI GOA SANGGRENG / 1988

EMPAT BREWOK DARI GOA SANGGRENG


Seorang bayi diselamatkan Eyang Sinto Gendeng (Cherry Ivonne), karena kedua orangtuanya dibunuh Mahesabirawa (Yan Bastian), yang marah pacarnya dikawini orang lain. Bayi itu dilatih silat dan diberi senjata sakti, berupa sebuah kapak. Ia bernama Wiro Sableng (Tonny Hidayat). Lalu ia mencari pembunuh ayahnya yang dikabarkan sudah mati. Tinggal anak buahnya yang dipimpin Kalingundil (Gino Makasutji). Sementara itu ada empat orang yang dikenal sebagai Empat Brewok dari Goa Sanggreng, juga mencari Kalingundil dengan alasan ingin balas dendam juga. Maka terjadi perkelahian tiga pihak. Wiro Sableng menang, tapi pacarnya, Nilamsuri (Susan Aryani), anak Kalingundil, meninggal.
 P.T. CANCER MAS FILM

TONNY HIDAYAT
CHERRY IVONNE
GINO MAKASUTJI
SUSAN ARYANI
YAN BASTIAN
LUCY SOEBARDJO
HANS SIDARDJA
KENT PUTRA
ALI MS
ADNAN
NETTA SRI SUPRAPTI

GERHANA / 1985

GERHANA


Fandy (Dolly Martin) lahir ke dunia membawa beban berat. Ia dianggap anak sial oleh orang tuanya. Ketika Fandy dewasa, ia terlibat pembunuhan, padahal hanya membela teman-temannya. Fandy masuk penjara. Karena selalu berkelakuan baik, Fandy segera keluar dari penjara.

Kembali hidup bebas Fandy merasa kesepian, bahkan dianggap racun dalam keluarga sendiri. Ia lalu berusaha mencari Bibi Ani, pengasuhnya waktu kecil. Bibinya itu telah dibuang ke panti jompo oleh ayah dan ibunya. Dalam kesepiannya, Fandy jatuh cinta kepada gadis Jeanne (Sylvia Saartje), penyanyi rock. Kematian Jeane secara tiba-tiba di kamarnya membuat Fandy difitnah sebagai pembunuhnya. Kembali Fandy masuk penjara, tetapi merasa tidak bersalah ia melarikan diri dan memburu pembunuh sebenarnya. Akhirnya diketahui dalang pembunuhan itu adalah calon suami teman Jeanne.
 P.T. INEM FILM

SYLVIA SARTJE
DOLLY MARTIN
MIEKE WIJAYA
PITRAJAYA BURNAMA
RONALD KANSIL
MILA KARMILA
NYOMAN AYU LENORA
MALINO DJUNAEDY
NY. SUYADI
BUNG SALIM
DOLF DAMORA

KETIKA DIA PERGI / 1990

KETIKA DIA PERGI


Pasangan dokter Robert (Asrul Zulmi) dan Siska (Nungky Kusumastuti) ditugaskan ke sebuah desa di daerah Bromo. Kehadiran mereka menimbulkan konflik. Orang desa yang terbiasa dengan tangan dukun, tak bisa menerima dokter begitu saja. Konflik semakin tajam, ketika seorang pasien yang biasa dirawat dukun, meninggal, dan Robert tak bisa berbuat apa-apa. Sementara itu, Siska juga menderita sakit yang tak jelas, hingga meninggal. Penyakit aneh pun muncul di berbagai desa sekitar. Sebuah kisah "kuno", konflik antara dokter-dukun, modern-konservatif. Penyelesaian dalam film ini: dokter-dukun berdamai. Ketika sang dukun sekarat, Robert membantunya.
 P.T. KANTA INDAH FILM

NUNGKY KUSUMASTUTI
ASRUL ZULMI
RD MOCHTAR
ARIE SANDJAJA
RAS BARKAH
DHALIA
AFRIZAL ANODA

CINTA ANAK JAMAN / 1988

CINTA ANAK JAMAN


Heidy (Paramitha Rusady), pelatih senam, jatuh cinta pada Rendy (Donny damara), penyiar radio. Kemudian mereka memutuskan menikah. Pernikahan itu terus menerus dihantui percekcokan atas dasar cemburu yang begitu mudah terlontar, ataupun alasan-alasan yang sangat remaja. Sementara sahabat Heidy, Windy (Ira Wibowo) yang dari awal tidak setuju dengan hubungan itu, berusaha memisahkan, sedang sahabat Rendy, Bobby (Didi Petet), mencoba sebaliknya. Setelah berpisah, baru mereka sadar saling membutuhkan. Dalam tiang utama kisah ini, sutradara maupun penulis skenarionya berusaha melukiskan satu dunia segolongan anak muda kelas menengah berikut pikiran-pikiran mereka yang dangkal, sambil di mana perlu mengejek kaum tua. Ada nada humor di sana-sini seperti celotehan pergaulan yang khas antarmereka, tidak jauh berbeda dari pergaulan antarremaja, atau juga yang sering terdengar lewat radio-radio remaja.
P.T. VIRGO PUTRA FILM

TRAGEDI BINTARO / 1989

TRAGEDI BINTARO


Diangakat dari kisah nyata tragedi tabrakan 2 kereta api di wilayah Bintaro Jakarta.

Adalah Juned (Fery Octora) yang tinggal bersama dengan Minah (Roldiah Matulessy) neneknya dan keempat saudaranya di perkampungan padat Jakarta. Kedua orang tua Juned sudah pisah rumah akibat ketidak cocokan keduannya. Nenek Minah mengasuh lima orang cucu sekaligus sehingga nenek minah bekerja apa saja untuk menyambung hidup dari menjadi tukang pijat hingga tukang cuci pakaian meski kadang tidak bersih hasil cuciannya. Kedua orang tuanya meski belum bercerai akan tetapi sudah pisah. Mamanya Juned (Lia Chaidir) bekerja di konveksi yang sesekali datang kerumah nenek, sedangkan Bapaknya Efendy(Asrul Zulmy) bekerja di bengkel. Akibat keegoan kedua orangtuanya sehingga anak-anaknya menjadi korban.

Adegan dibuka dengan Juned bersama temannya menyusuri rel kereta api sambil membicarakan isu Koran Sinar Harapan yang akan dibredel. Seperti layaknya bocah, anak-anak Fendy biasa becanda dan berkelahi dengan sesama saudaranya. Mulyadi kakak Juned misalnya sering bersalah paham dengan Juned. Sementara itu Juned, meski sebagai anak kedua akan tetapi mempunyai tanggung jawab yang tinggi. Ia berjualan Koran. Sedikit demi sedikit Juned menabung hasil penjualan korannya dalam celengan.

Sementara itu, dari sekolah Mulyadi tidak boleh masuk kelas karena menunggak uang sekolah selama 4 bulan, melihat itu Juned menyuruh Mulyadi untuk meminta uang sama Bapaknya, akan tetapi Bapaknya tidak memberinya uang dengan alasan tidak punya uang, bahkan menyuruh Mulyadi untuk tidak datang-datang lagi. Juned yang cerdas akhirnya menemui Bapaknya di bengkel untuk meminta uang, akan tetapi dengan alasan belum gajihan akhirnya Juned ngambek dan lari meninggalkan Bapaknya. Bapaknya mengejarnya dan akhirnya memberinya uang, yang ternyata uang itu adalah untuk kakaknya Mulyadi yang belum membayar uang sekolah. Mengetahui itu nenek Minah menjadi kesal ke Juned, karena dianggapnya itu atas suruhan neneknya.

 

Tragedi Bintaro bermula saat Kepala Stasiun Serpong memberangkatkan KA 225 (jurusan Rangkasbitung-Jakarta Kota) menuju Stasiun Sudimara. Sedangkan, di saat yang sama, KA 220 patas (jurusan Tanah Abang-Merak) di Stasiun Kebayoran seharusnya beristirahat sementara waktu untuk melepas KA 225.

Akan tetapi, PPKA Stasiun Kebayoran tak mau mengalah. Ia tetap memberangkatkan KA 220. PPKA Stasiun Sudimara lantas memerintahkan juru langsir agar KA 225 masuk jalur 3. Ketika akan dilangsir, masinis tidak mampu melihat semboyan yang diberikan juru langsir lantaran penuhnya lokomotif. Masinis KA 225 justru mengira petugas PPKA memberi sinyal untuk berangkat, ia pun membunyikan semboyan 35 dan melanjutkan perjalanan keretanya.
Bencana tak dapat terelakkan. Kedua kereta, patas 220 dan KA 225 bertemu di jalur tikungan S, sekitar 200 meter dari perlintasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. Masing-masing masinis tidak mampu lagi mengendalikan kereta sebelum akhirnya bertabrakan dan menyebabkan kedua kereta hancur lebur. Sedikitnya, sekitar 156 penumpang meninggal dunia akibat tabrakan ini.

Setelah diselidiki lebih lanjut, kecelakaan terjadi akibat faktor human error. Berkembang pula fakta terkait kecelakaan tragis tersebut. Di antaranya adalah:

Merasa hidupnya makin susah di Jakarta, Nenek Minah mengajak cucu-cucunya untuk pindah ke desa. Nenek minah akan membawa cucu-cucunya berangkat dahulu sementara Mamanya Juned disuruh menyusul kemudian. Sementara itu di perempatan tempat Juned menjual Koran, temannya memberi tahu kalau Bapaknya sedang makan di restoran bersama seorang perempuan. Juned yang bergaya kocak, menghampiri Bapak dan langsung meminta uang, melihat itu Juned mengira kalau itu pacar Bapaknya meski dengan gaya yang kocak, akan tetapi kata-kata yang Juned lontarkan mengena di Bapaknya. Begitu sampai ke rumah nenek Minah, Juned langsung memberi tahu neneknya kalau habis ketemu Bapaknya dengan seorang cewek tanpa mengetahui kalau Mamanya berada di dalam sedang sakit. Mengetahui mamanya sakit, Juned membuka celengan dan menyuruh neneknya membawa mamanya berobat.

Malamnya Juned pergi ke kontrakkan Bapaknya untuk memberitahu kalau ia dan neneknya akan pindah kedesa sehingga tidak merepotkan Bapaknya lagi. Juned juga meminta uang ganti pada Bapaknya karena uang Juned yang ditabungan habis dipakai buat berobat mamanya, akan tetapi tidak langsung diganti. Juned berteman baik dengan Memet teman sesama penjual Koran, sehingga ia pun sering cerita tentang keadaan keluarganya.

Sekali waktu Efendy mengajak anak-anak untuk berlibur ke Dunia Fantasi dan bermain-main, akan tetapi tanpa kehadiran Juned. Begitu pulang dari Jalan-jalan Efendy membagi-bagikan hadiah pada anak-anaknya juga uang untuk nenek. Hadiah Efendy untuk Juned tidak jadi diberikan karena Juned belum pulang sehingga hadiah itu dibawa pulang kembali oleh Efendy untuk disimpan dan diberikan langsung pada Juned.

Persiapan nenek Minah untuk pulang kedesa dari hari kehari selalu dipersiapkan. Demikian juga Juned yang selalu cerita pada Memet. Menurut rencana Mama akan pulang belakangan sedangkan nenek Minah pulang duluan membawa cucunya. Anak-anak memakai hadiah yang diberikan Bapaknya untuk pulang, kecuali Juned yang hadianya belum diberikan sehingga Juned during-uringan. Mulyadi berusaha menenangkannya.

Begitu Subuh tiba, nenek Minah bersiap-siap untuk ke stasiun setelah sebelumnya berpamitan pada pak Haji pemilik kontrakan. Efendi menyusul kerumah kontrakan Nenek Minah dan hanya bertemu dengan Pak Haji karena nenek dan anak-anak sudah berangkat ke stasiun. Akhirnya dengan memacu mobilnya, Efendi menyusul ke stasiun. Sementara di Gerbong Kereta Juned masih uring-uringan karena belum dikasih hadiah sama Bapaknya. Juned menunggu-nunggu Bapaknya yang tidak datang-datang hingga akhirnya dengan setengah terpaksa Juned naik kereta.

Begitu kereta berjalan pelan, Efendi telah sampai di stasiun dan langsung mengejar dimana anak-anaknya berada untuk memberikan hadiah Juned lewat jendela. Akan tetapi kereta yang telah berjalan dan besarnya bungkusan yang diberikan tidak bisa masuk kelewat jendela, akhirnya Junedpun tidak menerima hadiah tersebut. Juned menangis karena hadiah itu tidak bisa ia terima.

Ditengah perjalanan pada km ±18.75 dari arah yang berlawanan muncul kereta lain yang sarat dengan penumpang pada rel yang sama. Akhirnya terjadilah tabrakan maut antara dua kereta yang menyebabkan timbulnya korban Jiwa. Juned yang terjepit berteriak memanggil neneknya...., sedangkan Mulyadi berusaha memanggil-manggil Bapaknya. Seluruh keluarga nenek Minah tewas dalam kecelakaan maut tersebut, hanya tersisa Juned. Tangisan dan teriakan histeris mewarnai kecelakaan maut tersebut, darah dimana-mana.

Sementara itu Efendy akhirnya mengetahui kecelakaan itu setelah ditelepon dan langsung kerumah sakit untuk melihat jasad keluarganya. Keberadaan Juned yang terjepit akhirnya dapat dikeluarkan dan di rumah sakit kedua orang tua Juned akhirnya dipersatukan olehnya. Juned menyuruh kedua orangtuanya untuk berbaikan.

Di akhir kisah, muncullah Juned yang sebenarnya direl kereta api dengan memakai penyangga kaki, karena kaki yang kiri harus diamputasi. Juned adalah salah seorang korban musibah tabrakan kereta api di Bintaro. “Sayalah Juned salah seorang korban musibah tabrakan kereta api di Bintaro, saya berterima kasih karena kisah kami sekeluarga diangkat kelayar putih lewat film ini, moga-moga ada hikmahnya bagi kita semua” demikian kata-kata Juned yang asli di akhir kisah.

Petugas Sempat Mengejar KA 225 Sebelum Kereta Bertabrakan
Seharusnya KA 225 dilangsir di jalur 3. Namun karena miskomunikasi, kereta justru berjalan tanpa adanya aba-aba. Akibatnya juru langsir terkejut, ia mengejar kereta dan naik di gerbong paling belakang. Beberapa petugas PPKA ada yang mengejar menggunakan sepeda motor.

Salah seorang petugas PPKA, Djamhari, mencoba menghentikan laju kereta dengan menggerakkan sinyal hingga mengibarkan bendera merah. Apa hasilnya? Gagal total. Ia tertunduk sedih, berjalan kembali ke stasiun dan membunyikan semboyan genta darurat kepada penjaga perlintasan Pondok Betung. Sungguh naas, penjaga perlintasan Pondok Betung tidak menghafal semboyan genta.

Hukuman yang Dijatuhkan
Akibat kecelakaan yang disebut tragedi Bintaro ini, masinis KA 225, Slamet Suradio harus mendekam di balik jeruji besi selama lima tahun. Nasib serupa dialami Adung Syafei, kondektur KA 225. Ia menerima hukuman yang lebih ringan, 2 tahun 6 bulan. Sementara itu, PPKA Stasiun Kebayoran Lama Umrihadi mendapat kurungan 10 bulan.

Bangkai Lokomotif ‘dikubur’
Dua lokomotif yaitu KA 220 dan 225 yang bertabrakan dipindah dari lokasi kejadian dan dikuburkan di Balai Yasa, Yogyakarta. Balai ini merupakan museum bagi lokomotif tua dari seluruh daerah di Pulau Jawa.

Tragedi Diangkat ke Dalam Lagu dan Film Layar Lebar
Tragedi Bintaro betul-betul menyita perhatian seluruh masyarakat Indonesia. Demi mengenang tragedi tersebut, Iwan Fals, seorang musisi ternama tanah air membuat lagu berjudul 19/10 (tanggal peristiwa itu terjadi). Ebiet G Ade menciptakan lagu berjudul Masih Ada Waktu. Dua tahun berselang, peristiwa ini diangkat ke layar lebar oleh sutradara Buce Malawau, dengan judul Tragedi Bintaro. Turut dibintangi Lia Chaidir, Asrul Zulmi dan Ferry Octora.

LUKA DI ATAS LUKA / 1987

LUKA DI ATAS LUKA


Suami-istri Teddy-Ratih (Ray Sahetapy-Ariessa Suryo) semula pasangan bahagia. Pasangan itu mulai retak dengan adanya anak hasil perkawinan Teddy dengan Nila (Yatti Surachman) yang tinggal di rumah itu, beruntSuami-istri Teddy-Ratih (Ray Sahetapy-Ariessa Suryo) semula pasangan bahagia. Pasangan itu mulai retak dengan adanya anak hasil perkawinan Teddy dengan Nila (Yatti Surachman) yang tinggal di rumah itu, beruntun dengan hamilnya gadis lain oleh Teddy. Teddy kemudian terbunuh oleh Nila saat terjadi pertengkaran. Tapi Ratih yang diajukan sebagai terdakwa. Sedang Nila yang jadi saksi kemudian mengaku membunuh. Nila maupun Ratih dibebaskan. Sebuah kisah sederhana yang cenderung "diberat-beratkan"
 P.T. PANCARAN INDRA CINE FILM

ARIESSA SURYO
RAY SAHETAPY
YATTI SURACHMAN
AYU AZHARI
TANTY JOSEPHA
NANI WIDJAJA
ZAINAL ABIDIN
DICKY ZULKARNAEN
RATNO TIMOER
MIEKE WIJAYA
MILA KARMILA
NYOMAN AYU LENORA

BERI AKU WAKTU / 1986

BERI AKU WAKTU


Mario (Mathias Muchus) seorang pemuda Ambon yang hanya tahu bahasa otot. Saat kakaknya dikeroyok orang, dia hadapi para pengeroyok. Adiknya dibawa pacaran ke pantai, dia hajar pacarnya, dan mobil pacar adiknya dibakar. Masalah terbesarnya adalah ayahnya, Pieter Matulessy (Pitrajaya Burnama). Mario berontak atas sikap ayahnya yang sejak kecil mendidiknya secara keras, tanpa rasa sayang sama sekali. Ayahnya makin benci karena Mario sering berkelai di luar rumah.Mario bekerja sebagai penjaga keamanan sebuah proyek pembangunan. Perkenalannya dengan Susan (Ira Wibowo), gadis Indo-Jawa sebenarnya mulai mengubah sikapnya. Orangtua Susan menjodohkannya dengan Broto (Johan Saimima),yang ternyata sudah menghamili gadis lain. Ayah Mario pergi dari rumah setelah bertengkar keras dengannya, sementara Mario harus mengganti mobil Herman (Leroy Osmani), pacar adiknya yang dibakarnya. Dia mencari surat rumah, hingga akhirnya berkelahi dengan abangnya. Herman akhirnya mengeroyok Mario dan menusuknya. Peristiwa ini dapat merubah semua pihak.
 P.T. PAN ASIATIC FILM
P.T. ISAE FILM

MATHIAS MUCHUS
IRA WIBOWO
RINA HASSIM
PITRAJAYA BURNAMA
RONALD KANSIL
ADI KURDI
LEROY OSMANI
JOHAN SAIMIMA
MIEKE WIJAYA
TEDDY MALA
ANTON SUMADI
GRACE SIMON

POTRET / 1991

POTRET

 
Karya terbaru Buce Malauw. Sentuhan Teguh Karya sangat terasa. POTRET Pemain: Rachmat Hidajat, Nani Somanegara, Ully Artha, Gusti Randa Skenario/Sutradara: Buce Malauw Produksi: PT Ratna Mutiara Film "TIDAK ada yang baru di bawah matahari," demikian kata sang sutradara, Buce Malauw, pada awal cerita dibarengi musik Idris Sardi yang menyayat hati. Baru belakangan penonton film Indonesia akan mengerti. 

Tema film ini agak mengingatkan pada film Ayahku karya Agus Elias. Syahdan, Herman Kawilarang (Rachmat Hidajat) adalah seorang bekas playboy yang sudah tua, buta, dan ditinggal pacarpacarnya, juga istrinya yang ketiga, Lisa (Ully Artha). Pada masa lalu, Herman sudah meninggalkan istri pertamanya, Mira (Nani Somanegara), dan ketiga anaknya. Seolah tertimpa karma, Herman terpaksa menghabiskan sisa hidupnya di rumah jompo karena Lisa lebih asyik dengan lelaki lain karena "sungguh tak enak punya suami cacat." Sementara itu, Victor (Asrul Zulmi), si sulung, tak sudi memaafkan dosa bapaknya. Sampai di sinilah persamaan jalan cerita antara film Ayahku dan Potret. Akting si sulung dalam Ayahku yang diperankan Deddy Mizwar tentu saja jauh di atas permainan Asrul Zulmi. 

Namun, film Potret menjadi lebih menarik karena selain kisahnya lebih dinamis, karakter para tokohnya lebih berkembang. Lisa, yang genit menyebalkan, belakangan menimbulkan simpati karena ia memperlihatkan kemanusiaannya kepada Mira. Anton (Gusti Randa), adik Victor, adalah seorang anak muda biasa yang sering mendatangi pelacur tapi tetap mencintai ayahnya. Keberhasilan Buce Malauw untuk memperlihatkan perkembangan watak setiap tokohnya juga diperkuat oleh bakat alamiah para pemain. Perhatikan betapa santainya akting para pemain di rumah jompo (Leila Sari dan Pak Tile) serta adegan "pembicaraan lelaki" antara Rachmat Hidajat dan Gusti Randa. Hanya pemainpemain berbakatlah yang dapat memperlihatkan bahwa kejadiankejadian itu adalah potret sehari-hari. Meski Buce bukan "murid resmi" Teguh Karya, harus diakui bahwa sentuhan "suhu perfilman Indonesia" itu tetap terasa. Jika film ini berakhir dengan kembalinya Herman ke pelukan keluargadengan begitu mudahnyatentu saja karena kita ingin pulang dengan rasa lega dan bahagia. Namun, ini sekaligus berarti bahwa Buce menutup potret sehari-harinya yang begitu menyentuh dengan sebuah potret fantasi. Leila S. Chudori.
 P.T. RATNA MUTIARA INDAH FILM

NANI SOMANEGARA
RACHMAT HIDAYAT
ULLY ARTHA
ASRUL ZULMI
GUSTI RANDA
NANI VIDIA
MEGA SYLVIA
ATY CANCER