Tampilkan postingan dengan label LILIK SUDJIO 1940-1990. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LILIK SUDJIO 1940-1990. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Maret 2020

TERUNA DJENAKA / 1960

 

KALIMANTAN MOTION PICTURES LTD.

DJAMPANG / 1968

(Ketjil)

DJAKARTA BY PASS / 1962




GEMA MASA FILM

MEMBINA DUNIA BARU / 1964


PABRIK GULA JATIROTO
GAJA RAMA FILM

Jumat, 11 Februari 2011

LILIK SUDJIO /ASTAMAN JR. /LILIEK SUDJIO /LILEK SUDJIO 1940-1990



Nama lain: Astaman Jr. (Anak dari Aktor Astaman (1903 - 1980)
Lahir: Rabu, 14 Mei 1930 Makasar
sutradara senior Indonesia yang berhasil menyutradarai puluhan film nasional diantara tahun 1950 - 1990an dari film komedi sampai film mistri (Ilmu Hitam) atau Mistik.
• Sutradara Terbaik pada FFI 1955 dalam film “ Tarmina ” (1954)
• Editing Terbaik pada Pekan Apresiasi Film Nasional 1967 dalam film “Yudha Saba Desa ”
• Belajar Tehnik Montage di studio LVN Manila
• Belajar Sinematografi di UCLA. AS 2 tahun (1960-1962)

Pada masa sesudah perang kemerdekaan turut dalam sandiwara keliling Bintang Timur pimpinan H. Djamaluddin Malik [alm]. Terjun ke film pertama kali jadi pemain pembantu dalam Saputangan [1949]. Pada tahun 1951 mulai bekerja di PT. Persari Film sebagai tukang klep dan pencatat skrip. Disana ia belajar dan akhirnya mendapat kepercayan untuk jadi sutradara. Film pertama yang disutradarainya ialah Tarmina [1954], dimana ia jadi Sutradara Terbaik pada FFI di Jakarta pada 1955. Ia juga meraih editing terbaik lewat Yuda Saba Desa [1967] pada Pekan Apresiasi Film Nasional 1967. Film-film yang pernah disutradarai serta disuntingnya antara lain

Lilik Sudjio lahir di Makassar 14 Mei 1930. Sejak kecil, dia sudah ikut ayah angkatnya, Astaman, salah satu pemeran utama dalam sandiwara keliling Dardanella. Astaman aktif sebagai aktor sandiwara dan film sejak 1910-an. Setelah lulus sekolah dasar dan sekolah teknik, pada 1947 sampai 1949, Lilik bergabung dengan sandiwara keliling Bintang Timur yang dipimpin Djamaludin Malik. Selain sebagai pemain dan membantu penyutradaraan, dia juga mempelajari segi-segi seting dan dekorasi pentas sandiwara.

Ketika ayahnya bermain film Saputangan (1949), Lilik dan keluarga pindah ke Jakarta. Dalam film arahan sutradara Fred Young itu, Lilik juga bermain sebagai figuran. Selanjutnya, dia berturut-turut bermain sebagai figuran dalam film Djembatan Merah (1950), Ratapan Ibu (1950), dan Damarwulan (1950).


Lilik belajar mengenai sinematografi ketika dia bekerja di Studio Persari (Perseroan Artis Indonesia) di bawah pimpinan Djamaludin Malik yang dikenal sebagai Bapak Industri Film Indonesia. Dia bekerja sebagai clapper boy, script boy, asisten sutradara, dan editing. Dia juga belajar dari sutradara berpengalaman Moh. Said. Melihat kesungguhan belajar Lilik, Djamaludin Malik mengirimnya ke Filipina. Di Studio LVN Manila, Lilik belajar montase dan penyutradaraan.

Pada 1954, Lilik dipercaya menjadi sutradara merangkap editor dalam film Tarmina produksi PT Persari Films. Debut film itu langsung melambungkan namanya dalam Festival Film Indonesia (FFI) pertama tahun 1955. Meski menjadi sutradara terbaik, namun Lilik tak setenar sutradara seangkatan seperti Usmar Ismail atau Nya Abbas Akup.

Pada FFI berikutnya, film Lilik berjudul Anakku Sajang (1957) mendapat penghargaan pemeran utama pria terbaik, pemeran utama wanita terbaik, dan kamera terbaik. Pada 1960, Lilik mendapat beasiswa dari Yayasan Rockefeller. Bersama dua rekan sesama sutradara, Nya Abbas Akup dan R. Djokolelono, dia memperdalam ilmu sinematografi selama satu semester di University of California, Los Angeles, Amerika Serikat. Kemudian hingga 1962, dia menambah pengetahuan dalam teknik pembuatan film di Samuel Goldwin Studio, studio Walt Disney, dan studio Howard Anderson dalam bidang special effects.

Setelah itu, Lilik aktif berkarya dan kerapkali menggandeng aktris nomor wahid seperti Suzanna hingga Doris Callebaute. Filmnya yang berjudul Yuda Saba Desa (1967) produksi Wahyu Film meraih penghargaan editing terbaik pada Pekan Apresiasi Film Nasional ketiga tahun 1967. Lilik Sudjio telah menyutradarai 68 film semasa hidupnya. Bahkan 18 film dia tulis sendiri skenarionya. Selain Gundala (1981), beberapa filmnya yang terkenal antara lain Si Buta dari Goa Hantu (1970), Tarsan Kota (1974), hingga serial Wiro Sableng yang tayang pada 1988.

Lilik aktif hingga tahun 1990 dengan karya terakhirnya, Jaka Swara. Dia wafat di Jakarta pada 9 Desember 2014 meninggalkan istri dan ketiga anaknya.



DI MANA anda mencintai pekerjaan, anda, di sanalah sebenarnya sumber kesenangan mewarnai kehidupan anda.

Demikianlah antara lain kata-kata yang kami petik dari tanya jawab dengan sutradara film, Liliek Sudjio. Cara bicaranya yang terus-terang, sifatnya yang ramah, dan supel, merupakan ciri khas dari watak pribadinya. Karena itu, adalah wajar jika ia disenangi oleh setiap aktor dan aktris yang bermain dalam setiap film yang disutradarainya.

Berbicara tentang suka-dukanya selama berkecimpung di bidang film, Pak Liliek menuturkan kisahnya seperti di bawah ini:
Tahun 1936, ketika itu umurnya baru enam tahun, ayahnya, yakni Pak Astaman yang telah lama dikenal sebagai aktor pentas di jaman jayanya Tonil DARDANELLA, membimbing bakat putranya di bidang film dengan penuh kesungguhan.

Suatu kenangan yang tak pernah terlupakan baginya ialah ketika Liliek mendapatkan kesempatan untuk bermain  bersama ayahnya dalam film “DR SAMSI”. Di luar dugaan, debutnya sebagai pemain cilik mendapat sambutan yang baik, ketika film ini dipertunjukkan di kota Bombay, India.

Empatbelas tahun kemudian, ketika umurnya menginjak 20 tahun, Liliek mendapatkan kesempatan lagi untuk bermain film, sebagai seorang “manager Hotel” yakni dalam film SAPUTANGAN. Semenjak itu, tekadnya semakin kuat untuk mengetahui dan mendalami seluk-beluk seni dan teknik pembuatan film. Cita-cita ini dimulai dari tingkatan yang paling bawah sekali, yakni sebagai tukang tik naskah skenario.

Tahun 1954 setelah Pak Liliek main kembali dalam film-film :EILANI, dan TABU produksi PERSARI yang diputar di Philipina, ia mendapat dorongan semangat dari Djamaluddin Malik (Pimpinan PERSARI) untuk menjadi sutradara film.

Semula Liliek ragu mengingat segala macam ejekan yang pernah diterimanya/dialaminya, ketika ketika ia mencoba-cobanya. Rekan-rekannya memberi komentar bahwa hasil karyanya belum dapat dikatakan sebagai hasil karya seni dan teknik film melainkan hanya sekedar “Sandiwara Potret”!

Sesaat Liliek terdiam, kemudian meluncurlah di dalam ucapannya: “Pengalaman adalah guru yang terbaik untuk mencapai kemajuan”.

Harapan menjadi kenyataan. Tahun 1954 baginya merupakan titik-tolak dalam menuju ke arah perkembangan dan kemajuan karirnya dalam bidang perfilman. Hal ini terbukti dengan berhasilnya ia sebagai sutradara terbaik dalam film-nya yang pertama: TARMINA. Dalam film ini, Liliek merangkap sebagai pembuat skenario, editor dan sutradara. Sedang copy rightnya di tangan ayahnya sendiri.

Tahun 1967, Liliek dinyatakan sebagai editor film yang terbaik dalam filmnya: JUDA SABA DESA. Demikianlah selama lima belas tahun ia aktif sebagai sutradara film. Filmnya yang terbaru ialah SI DJAMPANG MENTJARI NAGA HITAM.

Diantara kelima belas film yang disutradarainya, film ANAKKU SAJANG dinyatakan oleh seorang produser Film Amerika sebagai film yang baik isinya, dan karena itulah Pak Liliek pernah mendapat beasiswa dari “Yayasan ROCKEFELLER”  untuk memperdalam pengetahuannya dalam bidang teknik pembuatan film (***)



SURJANI MULIA1951MOH SAID HJ
Actor
BEGADANG KARENA PENASARAN 1980 LILIK SUDJIO
Director
MANUSIA BERILMU GAIB 1981 LILIK SUDJIO
Director
GUNDALA PUTRA PETIR 1981 LILIK SUDJIO
Director
BANDIT PUNGLI 1977 LILIK SUDJIO
Director
SALAH KAMAR 1978 LILIK SUDJIO
Director
JUDA SABA DESA 1967 LILIK SUDJIO
Director
DAMARWULAN - MINAKJINGGO 1983 LILIK SUDJIO
Director
TERUNA DJENAKA 1960 LILIK SUDJIO
Director
ANAKKU SAJANG 1957 LILIK SUDJIO
Director
SI PAHIT LIDAH DANS SI MATA EMPAT 1989 LILIK SUDJIO
Director
DJAMPANG MENCARI NAGA HITAM 1968 LILIK SUDJIO
Director
DJAMPANG 1968 LILIK SUDJIO
Director
PAHALAWAN GOA SELARONG 1972 LILIK SUDJIO
Director
BINTANG SURABAJA 1951 1950 FRED YOUNG
Actor
TABAH SAMPAI AKHIR 1973 LILIK SUDJIO
Director
SI BEGO MENUMPAS KUTJING HITAM 1970 LILIK SUDJIO
Director
ANAK EMAS 1976 LILIK SUDJIO
Director
KEMBANG KATJANG 1950 HENRY L. DUARTE
Actor
SI BONGKOK 1972 LILIK SUDJIO
Director
SI BUTA DARI GUA HANTU 1970 LILIK SUDJIO
Director
MISTRI DARI GUNUNG MERAPI III 1990 LILIK SUDJIO
Director
MISTRI DARI GUNUNG MERAPI 1989 LILIK SUDJIO
Director
MISTRI DARI GUNUNG MERAPI II 1990 LILIK SUDJIO
Director
SUZIE 1966 LILIK SUDJIO
Director
RATU ULAR 1972 LILIK SUDJIO
Director
PENJESALAN 1964 LILIK SUDJIO
Director
NERAKA LEMBAH TENGKORAK 1988 LILIK SUDJIO
Director
ZORRO KEMAYORAN 1976 LILIK SUDJIO
Director
MEMBURU MAKELAR MAYAT 1986 LILIK SUDJIO
Director
MISTRI RUMAH TUA 1987 LILIK SUDJIO
Director
KEKASIH AJAH 1955 LILIK SUDJIO
Director
AIR MATA KEKASIH 1971 LILIK SUDJIO
Director
DJAKARTA BY PASS 1962 LILIK SUDJIO
Director
JAKA SWARA 1990 LILIK SUDJIO
Director
DARAH TINGGI 1960 LILIK SUDJIO
Director
MEMBINA DUNIA BARU 1964 LILIK SUDJIO
Director
TUAN TANAH KEDAWUNG 1970 LILIK SUDJIO
Director
BAPAK KAWIN LAGI 1973 LILIK SUDJIO
Director
KERIS KALAMUJENG 1984 LILIK SUDJIO
Director
TARSAN PENSIUNAN 1976 LILIK SUDJIO
Director
TARSAN KOTA 1974 LILIK SUDJIO
Director
TUGAS BARU INSPEKTUR RACHMAN 1960 LILIK SUDJIO
Director
NGIPRI MONYET 1988 LILIK SUDJIO
Director
WADAM 1978 LILIK SUDJIO
Director
SEPASANG IBLIS BETINA 1988 LILIK SUDJIO
Director
KARENA KASIH 1969 LILIK SUDJIO
Director
SENGATAN SATRIA BERACUN 1988 LILIK SUDJIO
Director
RATU ILMU HITAM 1981 LILIK SUDJIO
Director
SILUMAN TELUK GONGGO 1988 LILIK SUDJIO
Director
CINTA KEMBAR 1984 LILIK SUDJIO
Director
DARNA AJAIB 1980 LILIK SUDJIO
Director
REMONG BATIK 1950 HENRY L. DUARTE
Actor
BARANG ANTIK 1983 LILIK SUDJIO
Director
KASIH DAN TJINTA 1956 LILIK SUDJIO
Director
ORANG-ORANG SAKTI DARI TANGKUBAN PERAHU 1988 LILIK SUDJIO
Director
TARMINA 1954 LILIK SUDJIO
Director
DUNIA GILA 1951 MOH SAID HJ
Director
TANGKUBAN PERAHU 1982 LILIK SUDJIO
Director
TIGA SETAN DARAH DAN CAMBUK API ANGIN 1988 LILIK SUDJIO
Director
DJEMBATAN MERAH 1940 FRED YOUNG
Actor
JUWITA 1979 LILIK SUDJIO
Director
TUYUL EEE KETEMU LAGI 1979 LILIK SUDJIO
Director
SINYO ADI 1977 LILIK SUDJIO
Director
GEPENG MENCARI UNTUNG 1983 LILIK SUDJIO
Director
DENDAM DI JUMAT KLIWON 1987 LILIK SUDJIO
Director
TRAKTOR BENYAMIN 1975 LILIK SUDJIO
Director

CINTA KEMBAR / 1984




Sukses besar yang diraih musikus dangdut Rhoma Irama, membuat kedua adiknya, Deddy dan Herry, ingin mengikuti jejak sang kakak. Dengan penuh semangat keduanya berlatih. Sebagai remaja, keduanya tak lepas dengan masalah asmara. Secara kebetulan pula kakak-beradik ini mempunyai pacar gadis kembar, Ela dan Eli. Cinta kedua pasangan itu sudah begitu mendalam, sehingga ketika orang tua Ela dan Eli ingin menjodohkan salah satu anak yang kembar itu dengan pria lain, mereka menolak.

Bagi Deddy, cobaan bukan saja datang dari orang tua Eli, tetapi datang pula godaan dari pemuda lain terhadap Eli. Juga sangat menyakitkan ketika Deddy melihat dengan mata kepala sendiri, Herry menggandeng Eli, pacarnya. Deddy hampir frustasi. Untung, Rhoma Irama tidak saja hanya sukses di dalam kariernya, tetapi juga punya wibawa dalam menyelesaikan masalah adik-adiknya.


Minggu, 30 Januari 2011

DUNIA GILA / 1951

 

Disutradarai bersama LILIK SUDJIO  dan MOH SAID HJ
Umar (Rd Mochtar) diusir oleh ayahnya, M. Saleh (M. Budhrasa). Lalu ia tinggal di lain tempat bersama Kumul dan Maskur. Suatu ketika Umar menolong seorang wanita, Sutinah, dari usaha perampokan. Umar menghilang setelah memberi pertolongan. Lewat Kumul, akhirnya Sutinah tahu sang penolong. Sementara itu Saleh menikah dengan seorang wanita muda bernama Rosmini (Titien Sumarni). Suatu ketika Saleh sakit keras dan Umar pun pulang menjenguk ayahnya. Disitulah diketahui bahwa Rosmini adalah anak Sutinah. Dan ternyata pula Sutinah adalah adik Uyun, pelayan M. Saleh.
PERSARI

Rabu, 26 Januari 2011

BAPAK KAWIN LAGI / 1973



Herman seorang tukang catut mobil, sebulan lebih menawarkan mobil antiknya yang tak laku-laku. Istrinya Fatimah berusaha membantu kehidupan rumahtangganya dengan menjual harta rumah.Ternyata kemudian mobil itu laku dengan harga sangat tinggi. Herman mendadak kaya dan diam-diam kawin lagi dengan seorang janda muda. Celakanya anak janda itu ternyata kawan sekolah anaknya sendiri, dan suatu hari tanpa sengaja Fatimah berkenalan dengan sang janda yang akhirnya menjadi sahabat dan saling mengunjungi. Maka rahasia Herman terbongkar dan keributan sering terjadi. Herman harus memilih.
.P.T. BENYAMIN BETAWI FILM CORP.



TRAKTOR BENYAMIN / 1975


 
Semula judulnya Benyamin Mudik
Benny (Benyamin S) mahasiswa pertanian mendapat tugas kesebuah desa untuk penyuluhan dan meyusun skripsinya. Di perjalanan ia berjumpa deengan Erni (Yatni Ardi) kawan lama di SMA yang juga pulang kampung.

Di desa yang di tuju ia menginap di rumah pak Lurah (Hamid Arif) yang punya anak cantik Euis (Lenny Marlina). Saat melakukan tugas penyuluhan di desa itu Benny sering diganggu pemuda setempat. Apalagi pemuda setempat merasa mendapat saingan dalam mendekati Euis.

Hubungan Euis-Benny yang malu-malu model desa hampir bubar ketika Erni datang bersama rombongannya. Untung kesalahpahamam segera teratasi karena Erni datang untuk pesta panen desa dengan bernyanyi
 P.T. ADHI YASA FILM

BENYAMIN S
LENNY MARLINA
A. HAMID ARIEF
YATNI ARDI
SUP YUSUP
HETTY KOES ENDANF
S. DIRAN

ZORRO KEMAYORAN / 1976


Seorang bertopeng menjadi pahlawan dan bahan omongan orang-orang Kemayoran kerena berhasil menolong beberapa orang yang dicegat perampok. Seorang janda muda pengagum tindak-tanduk pahlawan bertopeng itu ingin sekali dipersunting. Ia mendatangi seorang dukun (Benyamin S)yang diam-diam tanpa diketahui orang juga menjadi Zorro. Yang tahu siapa Zorro itu adalah pacarnya. Terjadilah dialog yang dijadikan iklan "selain kita berdua, biarlah tak ada yang tahu siapa Zorro Kemayoran itu sebenarnya, kecuali Tuhan"




SALAH KAMAR / 1978



Pieter (Paimo) adalah penyanyi dan bintang film. Istrinya (Doris Callabaute) yang amat mencintainya sulit membedakan tingkah laku suaminya mana yang serius dan mana yang hanya sandiwara. Suatu ketika Pieter berpamitan pergi keluar negeri, tetapi istrinya tidak bisa mengantarnya. Di stasiun kereta api ketika akan ke Surabaya istri Pieter melihat orang yang sangat mirip dengan Pieter. Maka diyakininya itu adalah suaminya kendati bengan pakaian kuli stasiun. Ia dipaksa untuk pulang karena yakin betul dia adalah Pieter yang mungkin sedang bersandiwara. Di rumah mereka yang mewah yang ternyata dinyatakan sebagai Pieter (Paimo) juga tetap bertingkah laku aneh, seperti jongos saja. Para pembantu rumahpun, Anen dan Kardjo AC/DC yakin bahwa itu tuannya, Pieter, tetapi kok terus berkelakuan aneh. Maka sepakatlah mereka membawa ke dokter syaraf . Istri kuli stasiun itu (Ricca Rachim) dan anak-anaknya menunggu di rumah.

TUAN TANAH KEDAWUNG / MASTER OF KEDAWUNG, THE/ 1970

 

Nawi Ismail mungkin tidak salah mengatakan penonton Indonesia ibarat orang makan, selalu ingin disuguhi hingga perutnya kenyang dan meledak. Tapi melihat film import yang bukan mengenyangkan penonton hingga perutmnya buncit lalu timbul pertanyaan, apakah penonton Indonesia menggunakan ukuran ganda?

Film ini produksi Tidar Film, disana dikisahkan keluarga tuan tanah (awaluddin) yang disebabkan oleh kecurangan istri mudanya yang bernama Zubaidah (Tina Melinda). Sang bini tidak main sendiri, sebab sang kasir Samirun (Ami Priyono) ternyata punya hasrat besar terhadap kekayaan tuannya. Berbagai cara dilakukan, tetapi yang menyebabkan kematiannya oleh racun istrinya sendiri yang tidak mampu memindahkan kekayaan itu ke tangan Samirun dan Zubaidah. Pewaris sah dan putera tunggal tuan tanah Giran (Dicky Suprapto) disiasati oleh ibu tirinya dengan menyuruhnya ke Kalimantan mengurusi kekayaan ayahnya di sana. Dibelakang, kasir Samirun memaksa istri Giran, Ratna (Suzzana) menyerahkan kotak yang berisi surat wasiat almarhum. Semula bisa berhasil andai kata tidak ada pelayan setia Samolo (Maruli Sitompul) walaupun ia harus mengorbankan sebelah matanya membunuh Samirun dan pelayan Sarkawi (Kusno Sudjarwadi). Ketika Giran pulang dari Kalimantan ia memang bisa di perdaya oleh ibu dan adik tirinya, Mitra (Farouk Afero), tetapi semuanya berakhir ketika pelayan setia Nyai Ronde (Marliah Hardi) buka mulut.
 
Biografi Tuan Kedawung ini diangkat dari komik karyanya Ganes Th, ini bukunya tidak menarik walaupun kepanjangan untuk film. Dan menurut orang Lilik terlalu setia dengan lukisan Ganes, soalnya barangkali ia setia atau berkhianat. Karena komik yang baik harus mirip skenario yang dilukiskan dan bedanya cuma dikamera. Banyak yang bilang film ini kurang bagus, dibandingkan dengan Si Buta dari Goa Hantu skenario film ini jauh dari persyaratan. Film ini dirasa panjang dan menjenguhkan. Padahal film Si Buta dari Goa Hantu dulu yang dibuat yang mendapat sambutan baik, setelah itu ia membuat film Tuan Tanah Kedaung yang mengecewakan.
 



NEWS Ganes TH 
Ganes TH. (1935-1995) nama lengkapnya Ganes Thiar Santoso Ganes lahir pada tanggal, 10 Juli 1935, di Tanggerang, anak ke 4 dari 5 bersaudara. Terlahir dari seorang ayah yang bernama; Thirta Yahya Santosa dan seorang ibu yang bernama; Sofiah Linawati. Telah memiliki bakat melukis dan mulai menekuninya ketika SMP di THHK (Tiong Hoa Hwee Koan). Membuat merek/gambar di tirai kedai tukang bubur kacang hijau adalah pekerjaan awalnya. Kemudian hampir semua warung memanfaatkan keahiannya menggambar.Setelah lulus SMA, Ganes TH mencoba melanjutkan kuliah di ASRI-Yogyakarta, namun tak pernah tuntas lantaran kesulitan keuangan. Lantaran semua itu maka dia kemudian mengikuti kursus melukis, lantas menjadi asisten pelukis Lee Man Fong. Diawali hanya menjadi tukang cuci kuas sambil mempelajari teknis melukis pada pelukis terkenal tersebut.

Ia adalah seorang penulis (komik Silat) Cerita Silat Bergambar Indonesia terkenal. Ia merupakan salah satu tonggak kejayaan komik Indonesia. Pada masanya Ganes TH. merupakan salah satu dari “tiga dewa komik Indonesia” bersama dengan Jan Mintaraga dan Teguh Santosa. Kisah dalam komik-komiknya begitu memikat hati pembaca komik Indonesia di era tahun 1970 sampai 1980-an.

Ganes TH. menciptakan tokoh “Si Buta Dari Goa Hantu” yang menjadi trade mark-nya dan merupakan tokoh komik lokal yang paling populer sepanjang masa. Komik Si Buta Dari Goa Hantu adalah komik silat Indonesia pertama. Terbitan perdananya langsung "meledak" sehingga komik Indonesia seperti dilanda demam silat sehingga banyak komikus lain yang mengekor di belakang kesuksesan Si Buta. Kabarnya komik seri ini dicetak hingga ratusan ribu eksemplar.

Serial Si Buta dari Goa Hantu karya ciptaannya tidak akan pernah dilupakan orang. Petualangan Si Buta mulai dari Jawa Barat sampai ke Bali, Flores, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah menunjukkan pengetahuannya yang luas dan kecintaan pada tanah air yang begitu dalam. Sebelum sukses dengan kisah Si Buta Dari Goa Hantu-nya, sebelumnya Ganes TH telah lebih dahulu menghasilkan komik dengan judul sebagai berikut: "Api di Hutan Rimba","Mutiara dari Tanusa", "Di Bawah Naungan Flamboyan", dan banyak lagi lainnya

Ganes TH dengan "Si Buta Dari Gua Hantu" bersama dengan Jan Mintaraga dan Teguh Santosa merupakan salah satu ikon puncak sejak Kho Wan Gie, R.A. Kosasih, Zam Nuldyn, dan Taguan Hardjo. Sejarah panjang komik Indonesia mencatat nama Ganes TH sebagai salah satu legenda komikus Indonesia.

Karya Ganes TH
Si Buta dari Goa Hantu Si Buta dari Goa Hantu: “Misteri di Borobudur“ Si Buta dari Goa Hantu: “Kabut Tinombala” Si Buta dari Goa Hantu: “Iblis Pulau Rakata” Si Buta dari Goa Hantu: “Banjir Darah di Pantai Sanur” Si Buta dari Goa Hantu: “Bangkitnya Si Mata Malaikat” Si Buta dari Goa Hantu: “Pamungkas Asmara” Si Buta dari Goa Hantu: “Mawar Berbisa” Si Buta dari Goa Hantu: “Misteri Air Mata Duyung” Si Buta dari Goa Hantu: “Neraka Perut Bumi” Si Buta dari Goa Hantu: “Manusia Kelelawar dari Karang Hantu” Si Buta dari Goa Hantu: “Badai Teluk Bone” Si Buta dari Goa Hantu: “Tragedi Larantuka” Si Buta dari Goa Hantu: “Sorga yang Hilang” Si Buta dari Goa Hantu: “Manusia Serigala dari Gunung Tambora” Si Buta dari Goa Hantu: “Prahara di Donggala” Si Buta dari Goa Hantu: “Prahara di Bukit Tandus” Si Buta dari Goa Hantu: “Perjalanan ke Neraka” Djampang Jago Betawi Pendekar Selebor Pengantin Kelana Api di Langit Kulon Zomba Reo Anak Serigala Taufan Cobra Petualang Tjisadane (1968-1969) Krakatau (1970) Tuan Tanah Kedawung (1970) Nilam dan Kesumah (1970) Kunjungan di Tengah Malam

SI BUTA DARI GUA HANTU / 1970



Film ini sangat Populer sekali, selain komiknya juga popule, ternyata Ratno Timoer memainkannya juga bagus sekali. Tidak heran, sehabis film ini dibuat muncul film-film serupa. Tetapi ada 3 judul yang sama, yakni Si Buta dari Goa Hantu yang dibuat Lilik pertama kali di tahun 1970, lalu dibuat oleh Omar Rojik tahun 1974 dengan judul Si Buta , lalu Ratno Timoer membuat di tahun 1985 dengan judul Si BUta dari Gua Hantu

Sebuah desa kecil yang aman dikacau oleh orang buta bernama Mata Malaikat (Maruli Sitompul). Pakti Sakti (Alam Surawidjaya), ayah Barda Mandrawata (Ratno Timoer), yang tersohor dalam dunia persilatan, mati di tangan Mata Malaikat. Barda menuntut balas, setelah berbagai usaha meningkatkan ilmunya. Setelah dendam terbalas, ternyata soal belum selesai, karena Sapu Jagat (Kusno Sudjarwadi) masih menghadang. Sapu Jagat tidak dibunuh meski sudah menyerah, dan Marni (Sri Rejeki)sudah jadi istri Barda. Barda kembali mengembara. Salah satu film laga silat yang banyak dipuji.

Cinta yang terluka dan balas dendam sebagai api yang menyalakan semangat untuk mengarungi hidup penuh petualangan. Ssejak kelahirannya pada 1967 lewat terbitan UP Soka Jakarta, tak pelak merupakan tokoh komik lokal paling populer. Namanya terus bergema sejak diangkat ke gedung bioskop pada dasawarsa 1970-an dengan mencuatkan mendiang Ratno Timoer sebagai aktor pemerannya hingga ke layar kaca dalam zaman sinetron dewasa ini. Saat ini sebuah sinetron yang dibuat berdasarkan salah satu episode komik petualangan Si Buta masih diputar di sebuah stasiun televisi swasta nasional.

Kisah Si Buta dari Gua Hantu diawali oleh dendam yang tak terbalas. Barda Mandrawata, seorang pemuda tani di sebuah desa pelosok Banten, tengah menanti hari pernikahannya dengan Marni Dewianti saat seorang buta yang sakti tapi telengas, Si Mata Malaekat, mampir di desanya dan berbuat onar. Ia membunuh Ganda Lelajang, ayahanda Marni, karena soal sepele. Barda dan kawan-kawannya dari Perguruan Elang Putih mencoba menuntut balas. Paksi Sakti Indrawata, ayahanda Barda sekaligus ketua perguruan, menantang duel Si Mata Malaekat. Namun, ia tewas.

Barda yang merasa kalah jago dari si pembunuh pergi meninggalkan desanya dan menyepi di sebuah gua untuk memperdalam ilmu silat. Ia ingin membalas dendam. Berkaca pada musuhnya, ia berupaya mempelajari ilmu membedakan suara yang tak tergantung pada mata.

Pada suatu hari, pemuda yang dibakar dendam itu mengangkat goloknya menyilang sejajar dengan mata. Digerakkannya golok itu menggores sepasang matanya. Sejak itu Barda menjadi buta. Tapi, menjadi buta ternyata membuatnya lebih tangguh. Kepekaan nalurinya justru menjadi jauh lebih tajam karena terbebas dari indera penglihatan. Kesaktian ini membuat Barda bertekad menuntaskan dendamnya pada Si Mata Malaekat.

Singkat cerita, Si Mata Malaekat tewas di tangan Barda. Dendam terbalas sudah. Tapi, cerita justru baru dimulai. Tambatan cintanya, Marni yang jelita, telah menjadi isteri orang, meninggalkan luka di hati Barda. Barda alias Si Buta dari Gua Hantu yang kini tampil gagah dengan setelan baju kulit ular berikut tongkat yang didapatnya dari gua tempatnya menempa diri memutuskan hengkang meninggalkan kampung halamannya. Ia bertualang ke berbagai penjuru Nusantara demi menumpas kejahatan ditemani oleh Wanara, monyet cerdik yang setia.

Setelah episode pertama berjudul Si Buta dari Gua Hantu, muncul berbagai petualangan singkat Si Buta di Pulau Jawa, antara lain lewat episode Borobudur dan Mawar Berbisa. Lalu, ia terus mengembara ke Timur, menyeberang ke Bali dalam Banjir Darah di Pantai Sanur dan Nusa Tenggara Barat dalam kisah Reo Manusia Srigala yang mengambil latar di Sumbawa. Disambung perjalanan melintasi lautan menuju Sulawesi dalam Prahara di Donggala, Perjalanan ke Neraka dan Kabut Tinombala. Selanjutnya, ia kembali menyeberangi laut menuju Nusa Tenggara Timur, tepatnya Pulau Flores, dalam Tragedi Larantuka.




NEWS
Sang Pendekar di Layar Lebar

Pagi masih berkabut di Candi Borobudur. Seorang lelaki tua tampak tergesa membawa sebuah gulungan kertas. Ia berlari, tapi langkahnya terhenti saat mendapati sosok yang menghadangnya. Belum sempat berteriak, sebilah keris menghunjam dadanya. Matanya membeliak, tubuhnya terhuyung. Sebelum terkapar, ia masih sempat melempar gulungan kertas itu ke balik patung batu. Pagi itu, sesosok mayat menggegerkan kawasan sunyi candi itu.Adegan itu membuka episode Asmara di Candi Tua, sepenggal kisah perjalanan Si Buta dari Gua Hantu yang pernah ditayangkan RCTI pada 1994. Dalam episode itu, Barda Mandrawata—nama asli si buta—membongkar misteri perebutan harta sebuah keluarga kaya. Kematian kepala keluarga itu mendorong perselisihan dua anak lelakinya. Mereka berusaha merebut peta harta yang diserahkan sang ayah untuk putri kesayangannya, Sekarningsih. Berdurasi satu jam, episode itu cukup menjadi favorit para penggemar Si Buta karena di situlah Barda bertemu dengan kakeknya.

Divisualkan oleh Herry Topan Intercine Film, episode itu merupakan salah satu bagian dari 26 episode sinetron Si Buta dari Gua Hantu yang diangkat dari komik karya Ganes T.H., yang pertama kali terbit pada 1966. Usaha menampilkan kisah silat ini ke layar kaca bukan pertama kali dilakukan Herry Topan. Kita masih ingat aksi Ratno Timoer sebagai Barda lewat film Si Buta dari Goa Hantu besutan sutradara Lilik Sudjio pada 1971. Setelah itu, muncul beberapa versi lanjutan Si Buta di layar film.

Di tahun yang sama, Ratno Timoer kembali muncul sebagai Barda dalam Misteri Borobudur, yang ketika itu disutradarai Pietrajaya Burnama. Kisah yang diangkat sama persis dengan episode sinetron Asmara di Candi Tua yang ditampilkan RCTI. Bedanya hanya pada judul. Dalam versi komik, Ganes memberi judul Misteri Borobudur. Saat dilibatkan oleh Herry Topan sebagai penulis skenario di versi sinetron, Ganes mengubah kisah pertemuan Si Buta dengan kakeknya ini menjadi Asmara di Candi Tua.

Setelah sekuel kedua, muncul film lainnya yang dikembangkan jauh melampaui cerita komik aslinya. Pada 1983, Dasri Jacob membuat film Si Buta dari Goa Hantu Lawan Jaka Sembung.

Imajinasi yang boleh jadi sangat berlebihan. Si Buta dipaksa hidup di masa Jaka Sembung, tokoh komik karya Jair.

Tak tahan hanya sebagai pemeran Barda, Ratno Timoer juga ikut memproduksi film Si ButaDalam Neraka Perut Bumi pada 1986. Ratno Timoer masih memerankan Barda merangkap sutradara. Ia masih memborong pekerjaan ini saat meluncurkan film selanjutnya, Lembah Tengkorak. Bahkan Ratno turut berperan sebagai penulis skenario. dengan judul Produk-produk susulan ini lumrah muncul mengingat kesuksesan yang bisa diraup film pertama Si Buta. Sejak beredar di Jakarta pada 5 Juni 1971 sampai akhir Oktober 1971, film ini berhasil mendatangkan 45.769 penonton. Bandingkan dengan film Si Pitung Banteng Betawi karya Nawi Ismail, yang beredar dalam waktu bersamaan, yang hanya mengumpulkan 12.142 penonton.

Keberhasilan film pertama ini mungkin terletak pada kesetiaan Lilik Sudjio pada pakem cerita di komik. Ia tak mengubah cerita sehingga penonton yang berharap menemukan visualisasi petualangan dan keandalan silat Barda berhasil memperolehnya. Apalagi komik Si ButaSi Buta terus cetak ulang. Waktu peluncuran film ini juga tepat. Ketika itu Indonesia tengah dihujani film-film laga Hong Kong. Tak aneh bila penonton antusias melihat produk laga dalam negeri. Apalagi tokohnya sudah mempunyai pasar. memang begitu terkenal ketika itu. Sejak diterbitkan UP Soka Jakarta pada 1966,

Ingatan terhadap kesuksesan Si Buta juga tersimpan di benak Herry Topan. Terlebih, saat film itu muncul, ia masih bekerja sebagai booker di Djakarta Theater Group yang mengelola sekitar 40 bioskop di Jakarta. Saat RCTI baru saja mengembangkan sayapnya, ia mendapati banyaknya tayangan luar negeri yang ditampilkan. Ia lantas mengajukan proposal pembuatan sinetron silat ini. Usulannya langsung diterima. Bukan hanya karena reputasi lamanya di dunia film, tapi juga kesuksesan sinetron yang dibuat sebelumnya, Si Manis Jembatan Ancol, yang juga ditayangkan RCTI.
 
Begitu proposalnya diterima, Herry langsung mengontak Ganes T.H. untuk menulis skenario. "Pak Ganes langsung menyanggupi. Ia yang sebelumnya sakit-sakitnya jadi bersemangat dan sehat kembali," kata Herry. Untuk peran Si Buta, Herry memasang aktor muda Hadi Leo. Meski mengaku pengagum Si Buta, ketika itu Herry tak membaca seluruh komiknya. "Saya percaya saja sama Pak Ganes," katanya beralasan. Herry cukup puas dengan hasilnya. Tak hanya dari sisi laga, lelaki kelahiran Jakarta, 22 Desember 1948, ini sangat menyukai dialog yang diciptakan Ganes yang menurut dia berfalsafah tinggi.

Kini sinetron itu tak lagi ditayangkan. Namun, Herry, yang setelah Si Buta sukses kemudian meluncurkan sinetron Wiro Sableng, masih menyimpan kejayaan masa lalu. Saat ini ia tengah memercikkan ide membuat versi baru Si Buta. "Saya tengah negosiasi dengan ANTV," kata Herry, yang mendirikan kantornya di daerah Tomang.

Sama dengan sinetronnya dulu, Herry menyiapkan 26 episode. Bedanya, tanpa keberadaan Ganes T.H. yang meninggal pada 8 Desember 1995, ia akan mengembangkan cerita jauh melampaui cerita asli di komiknya. Meski untuk itu Herry harus membaca total seluruh komiknya. Saat ini, ia tengah menunggu izin dari Gienardy, putra Ganes T.H., untuk mendapatkan seluruh data cerita Si Buta.

Herry merencanakan akan memulai sinetronnya dari masa 20 tahun sebelum Mata Malaikat—musuh bebuyutan Si Buta—membunuh Paksi Sakti, ayah Si Buta. Saat itu Paksi Sakti merupakan musuh bebuyutan Mata Malaikat. Dalam sebuah pertarungan, Paksi membutakan penglihatan Mata Malaikat. Balas dendam bisa ditunaikan 20 tahun kemudian dengan menghabisi tak hanya Paksi tapi juga Gandra Lelayang, ayah Murni Dewiyanthi—kekasih Barda.

Herry juga merencanakan akan lebih mempersingkat adegan-adegan drama. Porsi laga akan ditambahnya dengan melibatkan konsultan silat dari negeri sendiri. Meski tak anti terhadap produk luar negeri, untuk urusan action, Herry lebih percaya jagoan dalam negeri.

Untuk peran Barda, Herry tak lagi memakai Hadi Leo. Ia ingin merekrut wajah baru yang sebenarnya juga dilakukannya sejak dulu. Ketika ia menempatkan Hadi Leo sebagai pemeran Barda, Herry sempat diprotes almarhum Ratno Timoer yang merasa sudah membesarkan dan identik dengan karakter Barda. Namun, kecaman itu tak dihiraukan Herry dan Ganes yang merasa lebih berhak atas cerita Si Buta. Apalagi tak ada kontrak dan perjanjian hukum antara Ganes dan Ratno Timoer. Setelah kedua orang itu tiada, kini Herry berniat meneruskan kembali pengembaraan Si Buta.F. Dewi Ria Utari



Berawal dari
Komik

Ganes TH adalah salah satu tonggak kejayaan komik Indonesia sampai akhir 80-an. Serial Si Buta dari Gua Hantu karya ciptaannya tidak akan pernah dilupakan orang. Petualangan Si Buta dari Jawa Barat sampai ke Bali, Flores, Kalimantan bahkan Sulawesi Sealatan dan Tengah menunjukkan pengetahuannya yang luas dan kecintaan pada tanah air yang begitu dalam.

Ganes TH. (1935-1995) adalah seorang komikus Indonesia terkenal. Ia merupakan salah satu tonggak kejayaan komik Indonesia. Pada masanya Ganes TH. merupakan salah satu dari “tiga dewa komik Indonesia” bersama dengan Jan Mintaraga dan Teguh Santosa. Kisah dalam komik-komiknya begitu memikat hati pembaca komik Indonesia di era tahun 1970 sampai 1980-an.

Ganes TH. menciptakan tokoh “Si Buta Dari Goa Hantu” yang menjadi trade mark-nya dan merupakan tokoh komik lokal yang paling populer sepanjang masa. Komik Si Buta Dari Goa Hantu adalah komik silat Indonesia pertama. Terbitan perdananya langsung "meledak" sehingga komik Indonesia seperti dilanda demam silat sehingga banyak komikus lain yang mengekor di belakang kesuksesan Si Buta. Kabarnya komik seri ini dicetak hingga ratusan ribu eksemplar.

Serial Si Buta dari Goa Hantu karya ciptaannya tidak akan pernah dilupakan orang. Petualangan Si Buta mulai dari Jawa Barat sampai ke Bali, Flores, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah menunjukkan pengetahuannya yang luas dan kecintaan pada tanah air yang begitu dalam.

Ganes TH dengan "Si Buta Dari Gua Hantu" bersama dengan Jan Mintaraga dan Teguh Santosa merupakan salah satu ikon puncak sejak Kho Wan Gie, R.A. Kosasih, Zam Nuldyn, dan Taguan Hardjo. Sejarah panjang komik Indonesia mencatat nama Ganes TH sebagai salah satu legenda komikus Indonesia.

Tokoh ini lahir dari ide dan goresan tangan Ganes TH, seorang seniman warga negara Indonesia keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Tangerang. Sudah banyak karya komik (dulu istilahnya Cergam kependekan dari Cerita bergambar) yang dibuatnya antara lain jagoan betawi Si Djampang, tetralogi : Tjisadane, Krakatau, Tuan Tanah Kedawung, serta Nilam dan Kesumah. Kebanyakan diantaranya juga sudah difilmkan. Tapi memang yang paling fenomenal adalah Si Buta dari Gua Hantu.

Seri cergam Si Buta dari Gua Hantu awalnya mengisahkan tentang seorang pendekar bernama Barda Mandrawata yang membutakan matanya sendiri demi menguasai jurus si Mata Malaikat untuk membalaskan dendam karena Mata Malaikat telah membunuh ayah dan saudara-saudara seperguruannya. Mata Malaikat digambarkan sebagai pendekar kejam yang tak tega membunuh korbannya yang kadang adalah rakyat jelata. Setelah menuntaskan dendamnya (ternyata Mata Malaikat itu nggak jago-jago banget!), tiba-tiba Barda diserang oleh seorang pendekar misterius bernama Sapu Jagat. Akibat serangan itu Barda Mandrawata terjatuh ke dalam jurang dan ternyata di dalamnya terdapat sebuah gua. Sewaktu sedang beristirahat, Barda dikejutkan oleh munculnya seekor ular raksasa yang menyerangnya. Setelah bertarung dengan sisa-sisa tenaganya ular tersebut akhirnya tewas di tangannya.

Yang lebih mengejutkan ternyata di dalam gua banyak pahatan di dinding yang menuliskan dan menggambarkan jurus-surus silat. Ternyata seorang pertapa sakti pernah tinggal di dalam sana dan meninggalkan pahatan ilmu silatnya untuk diwariskan. Barda pun lalu mempelajari dan melatih ilmu tersebut. Ia bertahan hidup dengan memakan daging ular yang dikeringkan, lalu kulitnya dijadikan pakaian (nah…ini yang kemudian jadi trade mark-nya, pendekar berbaju kulit ular).

Setelah mengausai ilmu tersebut, Barda Mandrawata pun berkelana untuk membasmi kebatilan dan kejahatan sebagai pendekar berjuluk Si Buta dari Gua Hantu.

Seri cergam si Buta dari Gua Hantu ini memperlihatkan wawasan nusantara dan nasionalisme Ganes TH yang begitu kental. Menceritakan perjalanan Barda Mandrawata ke berbagai pelosok nusantara dari Banten, Bali, Sulawesi, bahkan sampai ke Flores. Selain itu potret bangsa Indonesia yang tertindas oleh penjajahan Belanda (asing), sampai dengan orang-orang yang tega menindas bangsa sendiri demi kedudukan dan harta, sedikit banyak masih relevan dengan kondisi bangsa ini sekarang.

Daftar judul seri Si Buta dari Gua Hantu (siapa tahu ada yang mau nyari)*:
Si Buta dari Gua Hantu (1967)
Misteri di Borobudur (1967)
Banjir Darah di Pantai Sanur (1968)
Manusia Serigala dari Gunung Tambora (1969)
Prahara di Bukit Tandus (1969)
Badai Teluk Bone (1972)
Sorga yang Hilang (1974)
Prahara di Donggala (1975)
Perjalanan ke Neraka (1976)
Si Buta Kontra si Buta (1978)
Kabut Tinombala (1978)
Tragedi Larantuka (1979)
Pengantin Kelana (1981)
Misteri Air Mata Duyung (1984)
Neraka Perut Bumi (1986)
Bangkitnya Si Mata Malaikat (1987)
Pamungkas Asmara (1987)
Iblis Pulau Rakata (1988)
Manusia Kelelawar dari Karang hantu (1988)
Mawar Berbisa (1989)