Tampilkan postingan dengan label TENG CHUN/TENG CHOEN THE 1931-1955. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TENG CHUN/TENG CHOEN THE 1931-1955. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Februari 2011

THE TENG CHUN 1931-1955

THE TENG CHUN



















The Teng Chun (sebelah Kiri, berdiri), dikolasi pembuatan film bicara Boenga Roos dari Tjikembang dengan kamera kuno buatan sendiri yang bisa merekam suara sekaligus

Pada tahun 1934, adalah The Teng Cun yang memproduksi Doea Siloeman Oeler Poeti en Item. Selanjutnya, peranakan Tionghoa kelahiran Betawi ini menyutradarai Siloeman Babi Perang Siloeman Monjet (1935), Anaknya Siloeman Oeler Poeti(1936), Lima Siloeman Tikoes(1936), dan belakangan memproduksi Tengkorak Hidoep (1941).

Dari sekian itu, hanya film Siloeman Babi dan Tengkorak Hidoep yang hingga kini masih tersimpan di Sinematek, Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta. Siloeman Babi tidak bisa diputar lagi lantaran reel-nya sudah lengket akibat kurang perawatan.

Film Tengkorak Hidoep masih lumayan utuh dan agaknya terpengaruh film Tarzan dengan bintangnya yang saat itu tengah populer: Johnny Weismuler. Ini film yang mengisahkan sebuah ekspedisi ke satu pulau berpenghuni suku liar yang tetuanya bisa menjelma jadi jerangkong. Menurut catatan Sinematek, film ini tergolong laris.

SEBAGAI anak tertua dari pengusaha hasil bumi kaya bernama The Kim Le, The Teng Chun mestinya bisa meneruskan jejak ayahnya berdagang. Pada usia 18 tahun, dia bahkan dikirim ke Amerika untuk belajar ilmu dagang di New York. Tapi minat Teng Chun justru tercurah pada dunia film setelah, bersama Fred Young, seorang sutradara peranakan Tionghoa, belajar menulis skenario di Palmer Play Theatre. 

Lima tahun tinggal di New York, Teh Teng Chun, lahir di Surabaya pada 18 Juni 1902, singgah di Shanghai. Di sana dia makin intens mendalami dunia film. Salah satu karyanya, sebuah film bisu Whell of Desteny. Balik ke tanah air pada 1930, setelah sempat menekuni profesi sebagai importir film-film Mandarin, setahun kemudian Teng Chun memproduksi film garapannya sendiri, Boenga Roos dari Tjikembang, diangkat dari roman karya Kwee Tek Hoay.

Dalam Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches, Leo Suryadinata mencatat Boenga Roos dari Tjikembang sebagai film Indonesia pertama yang hadir dengan suara. Di film ini Teng Chun memborong nyaris semua pekerjaan: produser, sutradara, penata fotografi, sekaligus penulis skenario. Sayang, film ini tak terlalu mendapat apresiasi dari media.

Tapi Teng Chun tak kapok; dia terus menelorkan karya sekalipun tanpa sokongan ayahnya. Muncullah Sam Pek Eng Tay (1931), sebuah cerita cinta tragis dari daratan Tiongkok. Belajar dari keberhasilan ini, dia menggarap film aksi Delapan Djago (Pat Kiam Hap) pada 1933. Setahun berselang, Teng Chun terjun ke produksi film horor dengan Ouw Peh Tjoa (Doea Siloeman Oeler Poeti en Item). Waktu itu Teng Chun bergeliat di bawah bendera Cino Motion Picture, dan cerita filmnya mengambil banyak cerita legenda Tiongkok.

Pada 1940, Teng Chun mendirkan Java Industrial Film Company (JIF), yang menjadi bukti masa keemasan karier Teng Chun. Leo Suryadinata menulis, JIF adalah perusahaan film terbesar dan termodern di Hindia Belanda. JIF produktif memproduksi film seperti Lima Siloeman Tikoes tahun 1935, Pan Sie Tong tahun 1935, Tie Pat Kai Kawin tahun 1935, Ouw Phe Tjoa II (Anak Siloeman Oelar Poeti) tahun 1936, dan Hong Lian Sie tahun 1937.

Misbach Yusa Biran dalam Sejarah Film 1900-1950; Bikin Film di Jawa menuliskan, JIF adalah salah satu perusahaan film yang dapat terus bertahan, meski dunia perfilman sedang krisis. Ini karena manajemen yang baik. Teng Chun menerapkan suatu dasar finansial yang sehat dengan mencegah biaya produksi film melebihi bujet. Hal ini meminimalkan risiko bila terjadi kerugian.

Sejak menekui dunia film, hingga tahun 1940 Teng Chun menyadari permasalahan dunia perfilman  tanah air adalah penonton pribumi. Jika kaum intelektual suka film Eropa, masyarakat kalangan bawah penikmat setia film dalam negeri atau dalam istilah Misbach lebih menyukai sesuatu yang berbau “aksi, fantasi, lagu-lagu merdu, dan apa-apa yang menggemparkan.”

Untuk itu dibikinlah anak perusahaan JIF, Jacatra Pictures dan Action Film, untuk memproduksi film kelas bawah. Film-film macam Srigala Item (1941) dan Singa Laoet (1941) garapan sutradara Tan Tjoei Hock, seorang Tionghoa peranakan, box office. JIF sendiri kemudian berganti nama jadi The New JIF yang memproduksi film kelas satu.

Untuk memantapkan langkah JIF, pada 1940 Teng Chun menarik orang panggung macam Ferry Cock dan Dewi Mada dari Dardanella. Ferry Kock adalah salah satu “Lima Besar” bintang Dardanella, sedang Dewi Mada tersohor sebagai pemain dan penari kabaret. Selain familiar di mata publik, mereka sudah teruji dalam seni peran. Ini juga merupakan strategi jitu untuk mengangkat mutu film dan menarik penonton. Dalam perkembangannya, makin banyak orang Dardanella bergabung. Antara lain Astaman, Ali Yugo, M. Rasjid Manggis, dan Tan Tjeng Bok. JIF makin produktif. Antara 1940 hingga akhir 1941, perusahaan ini menghasilkan 15 judul film.

Pada masa pendudukan Jepang, JIF terpaksa dibubarkan. Jepang dengan sistem sensornya, memilih menyatukan seluruh perusahaan film dalam Jawa Eiga Kosha (Perusahaan Film Jawa). Setelah situasi politik mulai mereda, pada 1949, bersama sohibnya, Fred Young, Teng Chun kembali mendirikan perusahaan film Bintang Surabaja –diambil dari nama kelompok sandiwara milik Fred Young. Sukses, tapi gemerlapnya kemudian memudar akibat krisis. Bintang Surabaja akhirnya menghentikan produksi sejak 1962.

Teng Chun –mengganti namanya jadi Tahjar Idris pada 1967– lalu menjadi guru privat bahasa Inggris hingga akhir hayatnya. The Teng Chun meninggal dunia pada 25 Februari 1977.


The Teng Chun adalah seorang sutradara dan fotograferIndonesia di era tahun 1930an. Film-filmnya banyak dimainkan oleh aktor dan aktris terkenal pada waktu itu antara lain Moh Mochtar, Hadidjah, Lo Tjin Nio, dan Bissu.

Orang tua the Theng Chun adalah Kim Le ia menjadi importir film Tiongkok. The Theng Chun di Sanghai untuk memilih film untuh ayahnya. Dan juga menyampaikan usul ini dan itu pada ayahnya untuk di beli. Bahkan Chun bisa memberikan usulan untuk membuat film.



Kim Le sendiri adalah cina totok yang bermukim di Batavia, sebagi pengexport bahan hasil bumi ke Eropa. Usahanya maju hingga bisa menyekolahkan Theng Chung ke Amerika. Usahan Kim Le Ambruk akibat hancurnya ekonomi Eropa sehabis PD 1. Lalu Chung mengusulkan ayaknya menjadi importir film cina, kenapa? Chun sudah akrab dengan film karena selama belajar di San Fransisco, Chung dan teman-temannya sering main-main ke Los Angels tertarik menyaksikan orang bikin film. Pada mulanya the Kim Le keberatan berdagang film karena sebagai padagang besar hasil bumi merasa kurang layak berdagang film. Tapi tidak ada jalan lain. Chun sendiri lalu meninggalkan sekolahnya dan menetap di Shanghai./ Disamping menjadi pemilih film, mengusulkan ini itu untuk produser, ia juga ikut-ikutan dalam pembuatan. Dengan itu ia menguasai seluk beluk pembuatan film-film cerita klasik See You, kisah-kisah siluman, sembilan dari sepuluh produksinya dibuat berdasarkan gagasan Theng Chun.

PAT BIE TO 1933 THE TENG CHUN
Director Of Photography.Director
SAM PEK ENG TAY 1931 THE TENG CHUN
Director Of Photography.Director
ANAKNJA SILOEMAN OEIER POETI 1936 THE TENG CHUN
Director
ALANG-ALANG 1939 THE TENG CHUN
Director
DJANTOENG HATI 1941 NJOO CHEONG SENG
Director Of Photography
BOENGA ROOS DARI TJIKEMBANG 1931 THE TENG CHUN
Director Of Photography.Director
TJIANDJOER 1938 THE TENG CHUN
Director
DELAPAN DJAGO PEDANG 1933 THE TENG CHUN
Director Of Photography.Director
PAN SIE TONG 1935

Director Of Photography
PEMBAKARAN BIO "HONG LINA SIE" 1936 THE TENG CHUN
Director
ROESIA SI PENGKOR 1939 THE TENG CHUN
Director
LIMA SILOEMAN TIKOES 1936 THE TENG CHUN
Director
ANG HAI DJIE 1935

Director Of Photography
TIE PAT KAI KAWIN 1935 THE TENG CHUN
Director
RENTJONG ATJEH 1940 THE TENG CHUN
Director
RENTJONG ATJEH 1940 THE TENG CHUN
Director
GENANGAN AIR MATA 1955 THE TENG CHUN
Director
OH IBOE 1938 THE TENG CHUN
Director
GADIS JANG TERDJOEAL 1937 THE TENG CHUN
Director
OUW PEH TJOA 1934 THE TENG CHUN
Director Of Photography.Director.

DARI 'SILOEMAN OELER' SAMPAI 'TENGKORAK HIDOEP'

DARI 'SILOEMAN OELER' SAMPAI 'TENGKORAK HIDOEP'

Pada mulanya adalah The Teng Chun. Putra tertua usahawan The Kim Ie ini lahir dua tahun setelah bioskop pertama berdiri di Batavia, tepatnya 18 Juni 1902. Dari pelbagai catatan kemudian diketahui: kala beranjak remaja, The Teng Chun dikirim ke New York untuk belajar ilmu dagang, tapi minatnya justru tumpah ke dunia film. Teng Chun muda terpesona oleh film setelah mengikuti satu mata pelajaran tentang cara menulis skenario bersama Fred Young. Young lalu menjadi sohibnya yang paling akrab dan keduannya berkongsi mengeluarkan belasan film.



Adegan Film "Ti Pat Kay" Kawin- ( Siluman Babi), yang melambangkan orang yang suka makan. Kisah ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa melayu saat itu, sehingga sangat populer dikalangan China peranakan.

Pendidikan Teng Chun putus di tengah jalan saat resesi dunia 1920-an, tapi ia tak berhenti belajar. Ia terus berlayar ke Eropa. Namun, itulah perjalanan yang berakhir di Shanghai, Cina, yang waktu itu merupakan pusat film Mandarin. Di kota ini ia membuat Wheel of Destiny, sebuah film bisu yang berkisah tentang sepak-terjang para bajak laut. Itulah film perdananya yang dimainkan oleh orang-orang peranakan asal Surabaya yang dijumpainya di Shanghai.


Tiba di Tanah Air, ia membujuk ayahnya agar mengalihkan usaha dari eksportir hasil bumi menjadi importir film-film Mandarin. Banting setir usaha ini ternyata berhasil menyelamatkan ayahnya dari pailit. Pasar film Mandarin di Batavia ketika itu memang tinggi, dan Teng Chun punya peran besar. Kepada pengamat film Salim Said, yang mewawancarainya pada Juli 1976, ia bahkan ikut menentukan cerita saat proses produksi film-film yang akan dikirim ke Batavia.


Pada 1930-an film bersuara mulai diproduksi, dan itu membuat film Mandarin bisu yang diimpor tersingkir. Tapi Teng Chun tahu, tidak semua keturunan Tionghoa paham bahasa leluhur mereka. Dan ia cepat mengisi "kekosongan" ini. Ia membuat film sendiri. Debut pertamanya Boenga Roos dari Tjikembang (1931). Teng Chun memborong nyaris semua pekerjaan: produser, sutradara, penata fotografi, sekaligus penulis skenario.




 Adegan Ouw Phe Tjoa (Ular Hitam Ular Putih)

Berbekal sepucuk kamera manual sederhana yang dibeli di Shanghai, Teng Chun rajin membuat film-film bersuara dengan cerita legenda Tionghoa. Dengan bendera Cino Motion Pictures, ia menelurkan Sam Pek Eng Tay (1931), sebuah cerita cinta tragis dari daratan Tiongkok. Belajar dari keberhasilan ini, ia pun menggarap film aksi Delapan Djago (Pat Kiam Hap) pada 1933. Setahun berselang, Teng Chun terjun ke produksi film horor dengan Ouw Peh Tjoa (Doea Siloeman Oeler Poeti en Item), film tentang siluman ular. Syahdan, dari sebuah gua pertapaan, siluman ular putih menyamar sebagai perempuan cantik—genre mulainya karakter tokoh hantu cantik nan molek. Ia tertarik pada seorang lelaki, dan mereka menikah.




Kegandrungan Teng Chun pada film horor tak terbendung setelah Java Industrial Film (JIF) berdiri pada 1935. Berturut-turut JIF menghasilkan film horor Ang Hai Djie dan Pan Sie Tong. Pada tahun yang sama, Teng Chun memproduksi Tie Pat Kai Kawin atau Siloeman Babi Perang Siloeman Monjet. Di sini Pat Kai, siluman babi, turun gunung. Di kota, ia berhasil memperistri gadis Tjoei Lan, anak hartawan Kho Tay Kong. Karena anak mereka lahir sebagai babi, mertuanya mengusir sang menantu. Pat Kai lari bersama Tjoei Lan. Sang bapak minta bantuan guru dan murid yang berilmu tinggi. Terjadilah duel seru antara sang murid yang menjelmasiluman ular melawan siluman babi.

Setahun kemudian, JIF memproduksi Anaknja Siloeman Oeler Poeti, yang merupakan sekuel Ouw Peh Tjoa. Film ini berisi pengembaraan anak siluman ular putih mencari ibunya. Selain itu, JIF memproduksi Lima Siloeman Tikoes. Film ini berkisah tentang seorang istri yang bingung karena tiba-tiba suaminya punya dua wujud yang tak bisa dibedakan. Teng Chun yang sukses kini didukung studio megah yang berisi peralatan produksi lengkap. Resep jitulah yang melejitkan JIF. Harian Sin Po edisi 10 Agustus 1940 menulis The Teng Chun sukses memproduksi film secara modern.

Menjelang pendudukan Jepang, JIF mengalami kejayaan dengan produksi 14 judul—atau separuh dari total produksi film nasional. Pada 1941, JIF meluncurkan Tengkorak Hidoep yang sukses. Saat itu Teng Chun merekrut tenaga-tenaga terbaik dunia teater seperti AndjarAsmara, Ratna Asmara, Astaman, Inoe Perbatasari, Rd.Ismail, Tan Tjeng Bok, dan Suska.



Karena siluman Ular putih dan hitam laku keras, maka dibuat sambungannya "Anaknya Siluman ular putih"


Perang kemerdekaan memang menghentikan produksi JIF. Tapi, ketika peralihan kedaulatan tahun 1949, Teng Chun mendirikan perusahaan film Bintang Surabaja bersama sohibnya, Fred Young. Awal 1950-an, mereka amat produktif. Merekalah yang pertama melahirkan film ala "1001 Malam" yang lantas mewabah sebagai genre baru. Tapi, di akhir 1950-an kemilau Bintang Surabaja menyurut seiring suramnya produksi film nasional saat hiruk-pikuk kisruh politik di Tanah Air. Bintang Surabaja akhirnya menghentikan produksi sejak 1962.


Toh, perintis pembuatan film horor tersebut bersikap bersahaja tanpa post-power syndrome. Ketika kemampuan tiada lagi pada dirinya, tanpa sungkan ia beralih profesi: mengajar privat bahasa Inggris. Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, sempat memberikan tanda penghargaan kepadanya pada 1976. The Teng Chun menutup usia pada 25 Februari 1977 dengan jejak emas dalam perfilman Indonesia.



12 Maret 1977
Cerita klasik tionghoa 

THE Teng Chun adalah salah seorang produser dan sutradara film Indonesia. Lahir sebagai anak orang kaya. Ayahnya, The Kin le, adalah tauke pengekspor hasil bumi. Tahun 1920 anak Surabaya ini dikirim sang ayah ke AS. Bukan belajar dagang, tapi cara menulis skenario di Palmer Theatre Play, New York. Lima tahun bermukim di sana. Pulangnya, tidak langsung mudik ke Indonesia, tapi mampir di Shanghai. Di Shanghai itulah Teng Chun usul kepada sang ayah untuk putar kayun dunia bisnis: impor film-film Mandarin. Maklum, waktu itu dunia diserang apa yang disebut masa maleise. Sang ayah tidak setuju: dunia bisnis film penuh risiko. Tapi di tahun 1930 pulanglah Teng Chun ke Jakarta. Dibawanya sebuah kamera - yang terbuat dari kayu dan diputar dengan tangan. Setahun kemudian dimulailah produksi filmnya: Boenga Roos dari Tjikembang, sebagai film bicara Indonesia yang pertama. (Dengan judul yang sama, film ini dibuat ulang kembali tahun lalu dengan dibintangi Yatti Octavia). Hasil filmnya yang pertama ini: caci maki pers. Dalam masa perintisan itu, film luar negeri memang lebih sempurna - dan bisa dinikmati di beberapa kota besar di Indonesia. Beberapa cerita klasik Tionghoa kemudian difilmkannya: Sam Pek' Eng Tay, dan di tahun 1935 Ouw Pe Coa (Ular Hitam Ular Putih) yang ternyata laris sekali dan berhasil diekspor ke Singapura. Kira-kira tahun 1937, Teng Chun mulai mengambil cerita biasa. O, Iboe, Gadis Terdjoeal dan Alang-Alang. Film terakhir ini adalah film lokasi luar yang pertama dibintangi oleh M. Mochtar dan Hadijah. Tahun 1940 Teng Chun mendirikan Java Industrial Film Company (JIF). Studio JIF. itu waktu studio termodern dan besar. Dari JIF lahirlah film-film buatannya seperti Matjan Berbisik, Rentjong Atjeh dan Kartinah.

Dari situ pula muncul beberapa bintang film: Ratna Asmara (sudah meninggal isteri Suska. juga sudah meninggal), Astaman, Raden Ismail, Tan Tjeng Bok, Inu Perbatasari dan Andjar Asmara. Di zaman Jepang usahanya mandeg. Film buatannya berjudul Nusa Penida dirampas Jepang. Tahun 1950, bersauna Fred Young dia mendirikan studio baru dengan nama Bintang Surabaya. Cuma bertahan sampai tahun 1962: krisis film Indonesia, dan juga Teng Chun mendapat banyak saingan. Akhirnya dia tidak menggasak urusan film lagi. Di rumahnya di jalan Hayam Wuruk 86, Jakarta, Teng Chun menghidupi diri dan keluarganya dengan keahlian lain: buka kursus Inggeris. Di saat-saat Festival Film Indonesia diadakan, The Theng Chun, yang akhirnya berganti nama jadi Tahyar Idris, meninggal dunia: tanggal 26 Pebruari yang lalu. Jasadnya diperabukan di Jelambar. Tidak banyak yang kenal, dan tidak banyak yang mengantar jenazahnya. Konon cuma Soemardjono, itu tokoh dari Majelis Musyawarah

FILM BICARA, BICARA FILM PERTAMA INDONESIA

FILM BICARA

The Teng Chun (sebelah Kiri, berdiri), dikolasi pembuatan film bicara Boenga Roos dari Tjikembang dengan kamera kuno buatan sendiri yang bisa merekam suara sekaligus.


'Indonesia’ memasuki era film bicara buatan ‘dalam negeri’ sejak tahun 1931, lewat film Atma De Vischer.

Tentu saja film bicara lebih menarik dibanding film bisu karena mudah dipahami. Bahasanya Melayu campuran. Temanya pun lebih bervariasi seperti Bunga Roos dari Tjikembang, Indonesia Malaise, Sampek Eng Tay, Si Pitoeng, Raonah, Siloeman Babi kawin dengan Siloeman Monjet, Anaknya Siloeman Oeler, Anaknya Siluman Tikoes, Lima Siloeman Tikoes dan lain-lain. Bangsa siluman dan legenda yang menyisipkan seni bela diri ternyata memberi semangat pribumi untuk kembali menguasai seni silat warisan leluhur, ya mungkin pada suatu ketika diperlukan untuk berjuang meraih kemerdekaan. Produser film keturunan Tionghowa, antara lain Wong Bersaudara, Tan Koen Yauw, The Teng Chun .

Pada tahun 1937 cuma ada 2 film yang diproduksi oleh Java Industrial pimpinan The Teng Chun dengan judul Gadis Jang Terdjoeal yang disutradarai oleh Nelson Wong , bercerita tentang cinta Han Nio dan Oey Koen Peng. Artis dan aktornya kebanyakan keturunan Tionghwa. Ada juga film Terang Boelan (Het Eilan Der Droomen) produksi ANIF yang disutradarai Albert Balink dengan bintang Roekiah dan Rd Mochtar yang kemudian melegenda..

Pada tahun 1940, produk cerita drama amat digemari penduduk seperti Bajar Dengan Djiwa, Dasima, Harta Berdarah, Kartinah. Kedok Ketawa, Kris Mataram, Matjan Berbisik, Melati van Agam, Sorga Ka Toedjoeh, Sorga Palsoe, , Zoebaida. Berkibar lah nama Roekiah, Rd Mochtar , Rd Djoemala, S Waldy dan lainnya yang menjadi idola rakyat pribumi.

Pada tahun 1940 muncul Ordonansi Film Nomor 507 tentang Perubahan dan Penyempurnaan Komisi Film dan Susunan Keanggotaan Komisi Film. Ordonansi yang bertambah dan berubah-ubah menunjukkan bahwa Belanda amat concern terhadap pengaturan film demi untuk menjaga ‘keamanan’ jajahannya.

Film Air Mata Ibu diproduksi tahun 1941, dimana Fifi Young mengukir nama besar. Genre film lebih beraneka ragam ada drama, crime, fiksi, laga, komedi dan lainnya. Ini tercermin pada film Air Mata Iboe, Jantoeng Hati, Elang Darat, Garoeda Mas, Ikan Doejoeng, Koeda Sembrani, Lintah Darat, Moestika dari Jenar, Mega Mendoeng, Noesa Penida, Pah Wongso Tersangka, Srigala Item, Tjioeng Wanara, Tengkorak Hidoep dll. Paling tidak ada 32 film diproduksi tahun itu. Ini prestasi. Sayang tahun 1942 cuma ada 3 produksi . Maklum dunia mengalami masa sulit karena berkecamuk Perang Dunia ke II. Jepang masuk ke Indonesia dengan menyebut dirinya saudara tua yang mengumbar janji palsu akan membantu Indonesia meraih kemerdekaan . Ternyata lepas dari jajahan Hindia Belanda diganti oleh Jepang yang sama kejam. Jepang masuk Indonesia tahun 1942. Semula kita ‘kesengsem’ dengan jargon baru yaitu Saudara Tua dan Asia Timur Raya. Walau demikian pada tahun 1942 masih ada produksi film antara lain Boenga Sembodja, Seriboe Satoe, Berdjoang . Perang Dunia semakin menggila dan produksi film juga berkurang, tapi toh tahun 1943 Nippon Eiga Sha memproduksi film yang merupakan propaganda Jepang tentang heiho . Masih ada 2 film lagi yang diproduksi yaitu Di Desa dan Di Menara . Menjelang kejatuhan Jepang di tahun 1944 , ada hal yang mengherankan yaitu diproduksi 6 film antara lain Djatuh Berakit, Gelombang, Hoedjan, Keris Poesaka, Ke Seberang, dan film berjudul Koeli dan Romoesha, yang merupakan propaganda Jepang bahwa nasib romoesha lebih baik dan terhormat dibanding kuli di zaman penjajahan Belanda! Terbukti antara film dan politik tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan!

Selama penjajahan Jepang ada paceklik film asing sebab Jepang melarang film asing masuk, kuatir akan mempengaruhi rakyat Indonesia.

. Pemerintah Militer Jepang mengubah De Film Commissie menjadi Kainen Bunka Sidhosodohan Nippon Sodosho atau Pusat Kebudayaan dan Propaganda Pemerintah Militer Jepang (Sedenbu) di Indonesia O Ini berarti bahwa film lebih dititikberatkan pada propaganda Asia Timur Raya dan Saudara Tua. Menjelang kejatuhan Jepang (tahun 1944) masih ada produser yang berani memproduksi film antara lain produksi Persafi yang dibiayai oleh Nippon Eiga Sha konon dengan sutradara Rustam St Palindih dan seorang pejabat Jepang yang menggunakan nama Indonesia . Produksi Persafi lainnya adalah Gelombang, Hoedjan, Keris Poesaka, Ke Seberang. Di masa itu ada film Koeli dan Romoesha – tentang nasib Romoesha dari kacamata Jepang. Romoesha dianggap jauh lebih mulia di masa pnjajahan Jepang dibanding para koeli di zaman penjajahan Belanda Jepang. Terus terang baik jadi koeli maupun jadi romusha sama menderitanya. Setelah tahun 1944, produksi film mengalami status pingsan! Jepang menyerah pada Sekutu dan kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Perang merebut kemerdekaan mempengaruhi produksi film yang ikut mengalami masa ‘perjuangan‘ alias sepi.

Sejak tahun 1946 Pemerintah Indonesia menempatkan Badan Sensor Film berada dalam lingkungan Departemen Pertahanan Negara dan bertanggungjawab pada Menteri Penerangan. Apa yang tersirat dari yang tersurat dalam keputusan ini? Pentingnya perfilman dalam masa perjuangan yang mampu memberi penerangan dan mengobarkan semangat rakyat yang sedang berjuang. Film merupakan alat perjuangan yang tepat untuk menyusupkan jiwa kejuangan.

Setelah produksi film tertidur - karena seluruh potensi rakyat tertumpah pada memperjuangkan kemerdekaan, baru tahun 1948 dunia perfilman menggeliat lagi dengan 3 film yaitu Air Mata Mengalir di Tjitaroem (Tan & Wong Bros) Anggrek Boelan (South Pacific Film) dan Djaoeh Di Mata (South Pacific Film). Tahun 1949 kehidupan film bergairah lagi dengan 8 film.

Pemerintah kemudian menempatkan Badan Sensor Film dalam lingkungan Departemen Dalam Negeri dengan nomenklatur Panitya Pengawas Film. Itu terjadi pada tahun 1948 . Kalau diruntut penempatannya , Badan Sensor kembali seperti ketika zaman jajahan Belanda. sebab Film Ordonantie berada dalam naungan Binenland Bestuur – atau Urusan Dalam Negeri. Tersirat makna bahwa film merupakan benang pemersatu masyarakat Indonesia. Film juga punya peran membangun jiwani bangsa.

Sejarah perfilman mulai merangkak lagi di tahun 1950. Jiwa merdeka mulai menyusup dalam penciptaan cerita, termasuk merdeka berkreatifitas. Ada kejutan di dunia perfilman Indonesia dalam film Antara Bumi dan Langit – diproduksi oleh Stichting Hiburan Mataram dan PFN, disutradarai oleh Dr Huyung yang sejatinya bernama Hinatsu Eitaro, yang dulunya pernah menjadi Kepala Jawa Engeki Kyokai -sebuah sandiwara yang terkenal pada masa itu . Skenario ditangani oleh pengarang terkenal Armijn Pane sehingga getar susastra terasa. Namun terjadi kehebohan sebab untuk pertama kali dalam sejarah perfilman Indonesia karena berani menampilkan adegan ciuman antara bintang tenar S Bono yang berciuman dengan Grace! Gelombang protespun membahana.

54 tahun kurun waktu ‘Antara Bumi dan Langit’, gelombang protes ini terulang lagi pada tahun 2004 dengan film Buruan Cium Gue, produksi Multivision Plus pimpinan Ram Punjabi dengan ‘keberanian’ ciuman antara Masayu Anatasia dengan Henky Y Kurniawan. Saking hebohnya, dai terkenal Aa. Gym atau KH Abdullah Gymnastiar , Professor Dr Din Syamsudin yang waktu itu menjadi Sekjen MUI beserta para pemuka lima agama datang ke kantor LSF,karena sudah memberikan Surat Lulus Sensor. Juga ibu-ibu dari berbagai organisasi melayangkan protes, termasuk Inneke Kusherawati yang dulunya berani menampilkan adegan panas dan beberapa artis lainnya. Lembaga Sensor Film menjadi sasaran protes. Akhirnya oleh produser – demi menjaga kesatuan dan persatuan, menarik film tersebut dari peredara sesuai dengan keputusan Menteri Budaya dan Pariwisata yang pada waktu itu dijabat oleh Bapak I Gde Ardika menarik dari peredaran agar dapat direvisi dan LSF kemudian membatalkan Surat Lulus Sensor.Film ini pun direvisi dan kemudian beredar kembali dengan judul baru yaitu Satu Kecupan. Kalau ada yang memprotes tentu saja ada yang membela, antara lain Pendukung Kebebasan Berekspresi karena merasa kebebasan berexpresi hilang. Ya, jejak sejarah berulang kembali…

Yang menggembirakan di tahun 1950 ada 24 produksi film nasional. Ini menunjukkan semangat membangun film, luar biasa. Pada waktu itu Pemerintah Republik Indonesia menempatkan Badan Sensor Film dalam lingkungan Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PPK). Hal ini menunjukkan bahwa ‘titik berat’ perkembangan film pada budaya dan penddikan . Film merupakan media yang dianggap mampu mempengaruhi budaya bangsa, baik dari sisi positif maupun negatif. Film juga merupakan sarana pendidikan bagi anak bangsa. Pada masa itu saingan berat film Indonesia adalah film dari India, Malaysia dan Philipina yang menguasai bioskop kelas ‘bawah’ dimana rakyat mampu menonton, sedangkan bioskop kelas menengah dan atas didominasi film Amerika, Eropa, dan Cina! Saingan film impor membuat perkembangan film Indonesia megap-megap. Untuk mengatasi agar penduduk mau mencintai produksi film dalam negeri diadakan Festival Film Indonesia, namun belum dalam bentuk seperti FFI sekarang . Walaupun demikian Festival Film menjadi upaya untuk meningkatkan apresiasi terhadap film karya bangsa sendiri sehingga kalau mungkin mampu bersaing. Paling tidak film karya bangsa sendiri disenangi rakyat sendiri.

. Film import bagaikan bah datang menerjang, terutama dari Amerika . Dibentuk Association of Motion Picture of America di Indonesia (AMPAI). Film asing pun digandrungi, bagaikan raja di ranah perfilman Indonesia, bahkan menentukan selera. Film Indonesia yang masih lemah pun makin sulit berkembang. Untung ada sosok Usmar Ismail yang berhasil membuat film Darah dan Doa atau Long March yang mengisahkan perjalanan sewaktu long march para pejuang dari Jogya ke Jawa Barat. Shooting pertama dilakukan di Purwakarta, pada tanggal 30 Maret 1950. Tanggal bersejarah itulah kemudian ditahbiskan menjadi Hari Film Nasional. . Pada tahun itu ada 23 film yang diproduksi. Perlu dicatat bahwa film Darah dan Doa sudah mengalami pemotongan oleh Badan Sensor Film , namun setelah beredar masih saja menunai protes dari berbagai daerah, antara lain dari kalangan ABRI karena dikaitkan dengan DI/TII di Jawa Barat.

Masa yang menggembirakan datang ketika tahun 1951, dimana produksi film mencapai puncak perkembangannya. Di samping Golden Arrow, ada Persari, Bintang Soerabaya , PFN, Bintang , Thung Nam Film, Perfini dan lain-lainnya.. 64 film diproduksi tahun itu. Bintang-bintang baru bermunculan dan digandrungi masyarakat . Ada film Enam Jam Di Jogya, Budi Utama, Bunga Bangsa, Hampir Malam di Jogya, Gadis Olahraga, Main-main Jadi Sungguhan, Pahlawan, Si Pincang, Terbelenggu dan masih banyak lagi. Bertambah produser berarti bertambah pula produksi dan ladang seni serta tema lebih bervariasi. Sampai sekarang jumlah ini belum tertandingi.

Pada tahun 1955 tepatnya 30 Maret – 5 April menjelang Pemilu pertama - diselenggarakan Festival Film Indonesia untuk pertama kalinya . Ketua FFI adalah Djamaluddin Malik dan wakilnya RM Sutarto. Ini merupakan kombinasi ynng baik sebab perpaduan Djamaluddin Malik sebagai dedengkot film dan RM Sutarto sebagai birokrat yang mengerti film. Ketua Kehormatan Juri adalah Profesor Bahder Johan dan Ketua Juri dipilih Sitor Situmorang – seorang budayawan. Ini merupakan tonggak sejarah dan menjadi catatan tersendiri, sebab Pemerintah mulai menaruh perhatian serius pada perkembangan duniaperfilman yang punya dampak baik terhadap sosial budaya maupun ekonomi. Sayang, FFI kemudian baru diadakan lagi setelah 5 tahun yaitu pada tahun 1960, dengan piala yang disebut piala FFI.

Kebijakan perfilman tercermin dalam TAP MPRS 1960 yang menyatakan bahwa film bukan semata-mata barang dagangan melainkan alat pendidikan dan penerangan. Selanjutnya dalam impor film perlu ditentukan keseimbangan , sesuai politik bebas dan aktif dan film Indonesia harus dilindungi dari persaingan dengan film luar negeri.
Ya, itulah film yang memang tak dapat dipisahkan dengan politik!

KESUKSESAN JAVA INDUSTRIAL FILM

KESUKSESAN JAVA INDUSTRIAL FILM



Kabar Indonesia - Berkat kerja kerasnya, The Teng Chun berhasil membangun suatu perusahaan film yang besar dan paling konsisten pada masa kolonial. Perusahaan film yang berdiri pada 1937 ini memiliki nilai lebih dibandingkan perusahaan-perusahaan film yang “timbul-tenggelam” pada masa kolonial. Java Industrial Film Company mempunyai totalitas dalam memproduksi film-filmnya.

Pada tahun 1900, tepatnya awal Desember, penduduk di negeri ini mendapat kesempatan pertama kali untuk menyaksikan “gambar idoep”. Film-film yang beredar pada masa awal ini adalah film-film dokumenter. Perusahaan film Holandia yang memproduksi film “Onze Oost” (“Timur Milik Kita”) dan perusahaan film Nationale Film Fabriek adalah dua nama perusahaan, di antara beberapa nama perusahaan lain, yang hadir pada masa film dokumenter ini. Pengusahanya kebanyakan orang-orang kulit putih. Akibat tidak adanya tanggapan dari publik serta kurangnya tenaga profesional dan ketersediaan alat-alat, banyak perusahaan pada masa ini yang mengalami kebangkrutan.

26 tahun kemudian, Java Film Company perusahaan film milik L. Heuveldorp dan G. Krugers, berhasil membuat film cerita pertama di Indonesia dengan judul Loetoeng Kasaroeng pada 1926. Pasca keberhasilan pembuatan film cerita pertama tersebut, banyak perusahaan-perusahaan film yang mencoba membuat film cerita. Pada periode ini juga ditandai dengan kehadiran para pengusaha film peranakan Tiong Hoa. Sebelumnya bisnis mereka hanya terbatas pada masalah importir film dan menjadi pengusaha bioskop. Pengusaha-pengusaha film peranakan Tiong Hoa ini melihat peluang yang baik setelah film-film Cina laku di pasaran. Secara berangsur-angsur peran pengusaha-pengusaha film kulit putih tersisihkan dari persaingan dengan para pengusaha peranakan Tiong Hoa. Pada periode ini hingga Jepang masuk ke Indonesia mayoritas perushaan film yang ada dikuasai oleh golongan peranakan Tiong Hoa. Armijn Pane dalam bukunya Produksi Film Tjerita di Indonesia menulis bahwa para pengusaha peranakan terjun menjadi produser setelah seorang peranakan Tiong Hoa ikut main dalam film “Naik Djadi Dewa”.

Pada 1926 sampai 1930, tercatat ada sekitar delapan perusahaan film di Indonesia, yaitu Java Film Company dan Cosmos Film (keduanya dari Bandung), Halimoen Film, Batavia Motion Pictures, Nansing Film Coorporation, Tan’s Film, Prod. Tan Boen Soan, dan Kruger Film Bedrijf dari Batavia . Dari semua perusahaan film tersebut hanya dua yang pemiliknya orang kulit putih, yaitu Cosmos Film milik Carli dan Kruger Film Bedrijf milik Kruger, selebihnya milik pengusaha peranakan Tiong Hoa. Rata-rata perusahaan film pada masa ini hanya menghasilkan satu sampai tiga produksi film saja, kecuali Tan’s Film yang menghasilkan lima produksi film. Periode ini juga banyak perusahaan film yang mengalami kebangkrutan. Salah satunya adalah yang menimpa perusahaan Nansing Film. Perusahaan tersebut bangkrut akibat menanggung biaya yang sangat besar untuk membayar Olive Young, aktris bintang yang didatangkan langsung dari Shanghai Cina, untuk membintangi film “Resia Boroboedoer”. Olive Young dibayar f 10.000 oleh Nansing Film. Suatu pemborosan yang luar biasa pada masa itu.

Tahun 1930, sejarah perfilman Indonesia memasuki era “film bicara” (film dengan tekhnologi suara). Pada tahun ini muncul perusahaan yang menjadi cikal-bakal terbentuknya Java Industrial Film. Perusahaan tersebut yaitu Cino Motion Pictures di bawah pimpinan The Teng Chun. Berbeda dengan beberapa perusahaan film yang ada, Cino Motion Pictures dipimpin oleh seorang yang mengerti selera publik di Hindia Belanda dan mempunyai visi yang jelas dalam urusan bisnis film.

The Teng Chun adalah putra The Kiem Ie, seorang pedagang hasil bumi peranakan Tiong Hoa kelahiran Betawi. Sebelum membentuk Cino Motion Pictures ia pernah sekolah di New York , sebelum akhirnya terpaksa berhenti. Masa luang ketika menimba ilmu di New York dihabiskan untuk mengembangkan bakatnya dalam bidang perfilman, yaitu dengan mengikuti kursus menulis skenario. Setelah sekolahnya di New York gagal, The Teng Chun mengembara ke Shanghai Cina, pusat perfilman Mandarin kala itu. Ayahnya yang semula seorang eksportir hasil bumi, dibujuknya untuk “banting setir” menjadi importir film. Pada 1930, The Teng Chun pulang ke Batavia . 

Di sini ia mencoba mempraktekan pengetahuannya mengenai teknis perfilman dan pengalaman impor yang lumayan. The Teng Chun membidik sasaran publik Tiong Hoa yang dianggap sangat potensial sebagai penonton film.

Tahun 1930, seperti yang telah dikemukakan di atas, adalah masa film bicara. Dengan dimulainya era film bicara, pasaran film Mandarin yang tadinya bisu menjadi sulit. Tidak semua keturunan Tiong Hoa di Hindia Belanda faham bahasa leluhur mereka. The Teng Chun yang membawa peralatan sederhana dari Shanghai tidak membuang kesempatan ini. Ia kemudian mendirikan Cino Motion Pictures dan membuat film bersuara dengan cerita Tiong Hoa. Hasil produksi perusahaan film ini antara lain “Sam Pek Eng Tay” tahun 1931, “Pat Bie To” (“Delapan Wanita Tjantik”) tahun 1932, “Pat Kiam Hiap” (“Delapan Djago Pedang”) tahun 1933, serta ”Ouw Phe Tjoa” (“Doea Siloeman Oelar Poeti en Item”) tahun 1934. Setelah produksi filmnya yang disebutkan paling akhir tersebut, The Teng Chun mengganti nama perusahaannya menjadi Java Industrial Film pada 1935. Perusahaannya meneruskan produksi-produksi film klasik Tiong Hoa, seperti “Lima Siloeman Tikoes” tahun 1935, “Pan Sie Tong” tahun 1935, “Tie Pat Kai Kawin” tahun 1935, “Ouw Phe Tjoa II” (“Anak Siloeman Oelar Poeti”) tahun 1936, dan “Hong Lian Sie” tahun 1937. Dari beberapa perusahaan film yang ada, perusahaan ini adalah yang paling konsisten dalam memproduksi film-film cerita kalsik Tiong Hoa.

Pada 1937 beredar di bioskop-bioskop film ”Terang Boelan”. Film tersebut adalah produksi ANIF (Algemeene Nederlandsch Indie Film Syndicaat), dengan Albert Balink sebagai sutradaranya. 


Film ini mencatat sukses yang luar biasa. Sukses yang diraih oleh film ”Terang Boelan” karena komposisi sistem bintangnya dan adegan-adegan yang disukai publik pada masa itu. Adegan seperti nyanyian, lelucon atau lawak, perkelahian, dan keajaiban atau fantasi, adalah yang paling banyak disukai oleh publik penikmat film. Pemilik perusahaan film menarik dua pelajaran dari kesuksesan film ini. Dua pelajaran itu adalah, pertama, usaha pembuatan film bukan saja merupakan bisnis yang fisibel, tetapi juga menjanjikan keuntungan yang fantastik, kedua, resep yang merupakan unsur penentu adalah yang ditarik dari panggung sandiwara (tonil).

Pada 1937 sampai 1942, di Hindia Belanda ada tujuh perusahaan film yang aktif berproduksi hingga menjelang kedatangan Jepang, yaitu Java Industrial Film, Tan’s Film, Popular’s Film, Oriental Film, Djawa Film, Union Film, Star Film, Majestic Film Coy, dan Standard Film. Sejak kesuksesan film ”Terang Boelan”, dunia perfilman pada periode ini hingga masuknya Jepang ke Indonesia menunjukkan grafik yang luar biasa. Tercatat ada sekitar 52 judul film yang dihasilkan. Hebatnya, dari 52 judul film tersebut, 15 judul di antaranya adalah hasil produksi perusahaan milik The Teng Chun. Java Industrial Film pimpinan The Teng Chun sanggup menunjukan konsistensinya hingga akhir masa. Ciri yang paling menonjol pada kegiatan perusahaan film masa ini adalah dipergunakannya aktris-aktris dari perkumpulan sandiwara yang ada untuk bermain dalam film-film hasil produksi mereka. Strategi ini digunakan untuk mengangkat mutu film dan meraih dukungan publik sebesar-besarnya.

Java Industrial Film, ”mengambil” Ferry Kock dan istrinya, Dewi Mada, pada 1940 untuk dijadikan bintang dalam film-film produksinya. Keduanya merupakan mantan anggota Perkumpulan Sandiwara Dardanella. Sebelumnya, Andjar Asmara dan Ratna Asmara terlebih dahulu masuk ke dalam perusahaan ini. 


Perusahaan milik The Teng Chun ini kian besar setelah beberapa mantan anggota Perkumpulan Sandiwara Dardanella dan Bolero masuk ke dalamnya. Mereka yang masuk ke dalam Perusahaan Java Industrial Film pimpinan The Teng Chun ini adalah Astaman, Ali Yugo, M. Rasjid Manggis, dan Tan Tjeng Bok (dari Perkumpulan Dardanella), Inoe Perbatasari (dari Perkumpulan Bolero), serta beberapa pemain seperti Raden Ismail, Ludi Mara, dan Aisyah. Semua mantan pemain sandiwara ini masuk atas himbauan dari Andjar Asmara. Besar kemungkinan, The Teng Chun memakai mantan anggota Dardanella karena perkumpulan ini adalah perkumpulan besar pada dekade 1926-1935 dan pemain-pemainnya sudah dikenal masyarakat, begitupun aksi-aksi mereka di atas panggung yang telah teruji dengan baik.

Pada perkembangan selanjutnya, perusahaan film milik The Teng Chun ini membentuk dua anak perusahaan, yaitu Jacatra Film dan Action Film. Java Industrial Film berubah menjadi New Java Industrial Film, ketika membentuk anak perusahaan. Antara tahun 1940 sampai akhir tahun 1941, perusahaan ini menghasilkan 15 judul film, yaitu “Rentjong Atjeh”, “Dasima”, “Melatie van Agam”, “Sorga Palsoe”, “Matoela”, “Serigala Item”, “Matjan Berbisik”, “Si Gomar”, “Singa Laoet”, “Kartinah”, “Elang Darat”, “Ratna Moetoe Manikam”, “Poetri Rimba”, “Tengkorak Hidoep”, dan “Noesa Penida”.

Dalam perusahaan The Teng Chun ini, orang-orang bekas anggota perkumpulan sandiwara yang ditarik ke perusahaannya hampir seluruhnya mengambil peranan penting. Misalnya saja, Andjar Asmara memegang bagian publikasi untuk film-film produksi perusahaan ini, seperti film “Rentjong Atjeh”, dan sebagai sutradara dalam film “Kartinah” dan film “Noesa Penida”. “Rentjong Atjeh” adalah hasil karangan dari Ferry Kock. Ferry Kock dan Dewi Mada bermain dalam film ini, sekaligus turut ambil bagian untuk menyanyikan beberapa lagu dalam film ini. Selain itu, Ferry Kock dan Dewi Mada juga bermain dalam film “Matoela”. Inoe Perbatasari dipercaya untuk menangani film-film produksi Jacatra Film, sebagai sutradara dalam film “Elang Darat” dan film “Poetri Rimba”, serta sebagai pemain dalam film “Kartinah” dan film “Ratna Moetoe Manikam”. Ali Yugo mengambil tempat sebagai pemain dalam film “Kartinah”, “Elang Darat”, “Noesa Penida”, dan “Ratna Moetoe Manikam”. Astaman menjadi pemain dalam film ”Elang Darat”, ”Noesa Penida”, dan ”Ratna Moetoe Manikam”. Ratna Asmara membintangi film ”Kartinah”, ”Noesa Penida”, dan ”Ratna Moetoe Manikam”. Tan Tjeng Bok menjadi bintang dalam film ”Si Gomar”, ”Singa Laoet”, ”Srigala Item”, dan ”Tengkorak Hidoep”. M. Rasjid Manggis menjadi pemain dalam film ”Kartinah”.

Hampir seluruh film hasil produksi Java Industrial Film laku dipasaran. Namun sayangnya film-film ini banyak yang menyadap film-film dari luar negeri/Amerika. Semisal film ”Zorro” disadur menjadi film ”Srigala Item” dan ”Singa Laoet”, serta film ”Tarzan” yang diadaptasi menjadi film ”Rentjong Atjeh” dan ”Alang-alang”. Mungkin strategi ”jiplak” ini mengikuti suksesnya film “Terang Boelan” yang merupakan film adaptasi dari film “The Jungle Princess”
.

 
Java Industrial Film mengakhiri riwayatnya setelah ditutup paksa oleh tentara pendudukan Jepang pada 1942. Pemerintah militer Jepang menyatukan seluruh perusahaan film dalam Jawa Eiga Kosha (Perusahaan Film Jawa). The Teng Chun mengemukakan pendapatnya bahwa ”masuknya orang-orang panggung ke dunia film, memberi banyak pemikiran baru mengenai publikasi, wawasan yang luas, serta pandangan yang maju mengenai segi hiburan, antara lain berkat pengalaman mereka pergi keliling sampai ke luar negeri”. Tentang The Teng Chun dan Java Industrial Film, Andjar Asmara pernah mengatakan ”apa jang paling menarik hati kita ialah jang gebroeders The boekannja sadja mengerti bahwa soepaja bisa berdjoeang dalam pasar film haroes poenjakan perkakas jang serba modern, tetapi mereka djoega mengerti kemaoean djaman”.

Pelajaran yang dapat diambil dari kesuksesan The Teng Chun membangun perusahaan film Java Industrial Film adalah kecerdasannya melihat perkembangan dan selera publik penikmat film. Ia mampu melihat apa yang menjadi keinginan publik pada masanya. The Teng Chun juga mengambil orang-orang yang mempunyai pengalaman dalam hal akting (pemain sandiwara). yang dibintangi oleh Dorothy Lamour. Film ini beredar di Batavia pada 1936.

GENANGAN AIR MATA / 1955

PEMBAKARAN BIO "HONG LINA SIE" / 1936

PEMBAKARAN BIO "HONG LINA SIE"
JAVA INDUSTRIAL FILM


Dibakarnya bio "Hong Lian Sie" menimbulkan perkelahian seru antara golongan Kuen Luen Pai melawan kelompok Oen Kung Pai. Bio penuh senjata rahasia itu dikepalai oleh orang-orang jahat yang sering menganiayai kaum lemah. Di akhir cerita tokoh baik dapat memberantas semua kezaliman.

ANAKNJA SILOEMAN OEIER POETI / 1936

ANAKNJA SILOEMAN OEIER POET
JAVA INDUSTRIAL FILM

Cerita film ini merupakan sambungan dari film "Ouw Peh Tjoa" (lihat Ouw Peh Tjoa).
Anak itu merasa hidupnya dalam mimpi, karena tak jelas siapa ayahnya (yang manusia), sedang ibunya adalah siluman ular putih. Anak itu sering dimaki dan dipukuli, karena itu ia lari untuk mencari tempat hukuman sang ibu. Dalam pelariannya ia tersesat masuk hutan dan jatuh ke cengkeraman seekor monyet besar.


PAN SIE TONG / 1935

PAN SIE TONG
 JAVA INDUSTRIAL FILM
 

Cerita diambil dari serial See Yoe. Menurut Armijn Pane (Pendidikan dan Kebudayaan no 6, 1953), film ini dibuat tahun 1936, tapi bisa juga tahun 1935, karena rangkaiannya dengan serial See Yoe yang dibuat JIF tahun sebelumnya.

PAT BIE TO / 1933

PAT BIE TO
CINO MOTION PICTURES

Delapan Wanita Cantik

DELAPAN DJAGO PEDANG / 1933

DELAPAN DJAGO PEDANG ( Pat Kiam Hap)
 CINO MOTION PICTURES

Tahun produksi baru dugaan berdasar ingatan The Teng Chun. Wolly Sutinah (1915-1987) pandai main silat Cina. Karena itu ia diikutkan main dalam film ini, begitu juga dalam film "Ouw Peh Tjoa". Wolly adalah ibu aktris Aminah Cendrakasih.

SAM PEK ENG TAY / 1931

SAM PEK ENG TAY
 CINO MOTION PICTURES

Film ini cukup laku. Legenda Cina ini juga beredar dalam bentuk buku, ketoprak, drama, bahkan sandiwara radio.


Cerita cinta yang dibawa mati ini adalah tentang gadis Giok Eng Tay dengan perjaka Nio Sam Pek. Ayah Eng Tay, Giok Kong Wan, adalah seorang pejabat yang demi kedudukannya akan menikahkan putrinya dengan Ma Bun Cai, putra bupati kaya. Hubungan Sam Pek dan Eng Tay dipaksa putus. Eng Tay dikurung, sedang Sam Pek dianiaya anak buahnya. Luka amat parah membuat Sam Pek meninggal. Dalam perjalanan ke rumah Bun Cai, rombongan pengantin wanita berhenti di kuburan Sam Pek. Makam merekah, sementara hujan lebat turun dan angin bertiup kencang. Eng Tay menerjunkan diri ke kuburan Sam Pek. Hujan berhenti dan angin bertiup sepoi.

OUW PEH TJOA (Doea Siloeman Oeler Poeti en Item) / 1934

OUW PEH TJOA
DOEA SILOEMAN OELER POETI EN ITEM
 CINO MOTION PICTURES

 

Dari pertapaannya, siluman ular putih menyamar sebagai perempuan cantik. Ia tertarik pada seorang laki-laki Khouw Han Boen. Dan akhirnya mereka pun menikah. Belakangan Han Boen mengetahui bahwa istrinya itu seekor siluman ular putih. Dari seorang suhu besarnya, Hoat Hae Sian Soe. Karena katahuan, maka si ular putih lari ketakutan. Suhu besar mengejar dan akan membunuhnya, tetapi dicegah Kwan Im yang mengatakan bahwa siluman itu sedang mengandung. Sesudah melahirkan, barulah si ular putih menyerahkan diri dan minta agar Han Boen memelihara anak mereka dengan baik.

GADIS JANG TERDJOEAL / 1937

GADIS JANG TERDJOEAL

JAVA INDUSTRIAL FILM

Walu Han Nio telah menjalin asmara dengan Oey Koen Beng, tetapi oleh ibunya yang mata duitan karena judi, gadis itu ditunangkan pada pemuda hartawann Lim Goan Tek. Kehidupan rumah tangga Han Nio-Goan Tek tidak bahagia, meski sudah punya anak perempuan, Lin Nio. Han Nio malah diusir gara-gara uang Goan Tek hilang. Padahal, yang mencuri adalah Eng Swan, kakak Han Nio. Lantaran menolong Lin Nio, Koen Beng berjumpa dengan Han Nio yang dalam keadaan sakit gawat dan kemudian meninggal. Koen Beng mencoba membalas sakit hati bekas kekasihnya itu dengan mendatangi Goan Tek. Yang terakhir ini mati ditembak Eng Swan, yang juga ingin membalas sakit hati Han Nio.

OH IBOE / 1938



Setelah istrinya meninggal dunia, Tjoa Kim Liong menikah lagi, hingga anak perempuannya, Loan, hidup dibawah pengasuhan ibu tiri. Kim Liong lebih memikirkan kegemarannya berjudi. Usahanya dikuasakan kepada Kian Hwat. Karena Kian Hwaat tidak jujur, harta Kim Liong jatuh ke Kian Hwaat. Belakangan, harta itu bisa kembali berkat pertolongan Goan Hin, tunangan Loan.
 JAVA INDUSTRIAL FILM

BISSU
LO TJIN NIO

TIE PAT KAI KAWIN (Siloeman babi perang siloeman monjet) / 1935

TIE PAT KAI KAWIN
 SILOEMAN BABI PERANG SILOEMAN MONJET

JAVA INDUSTRIAL FILM 
 
Pat Kai (siluman babi) turun dari gunung, dan di kota berhasil memperisteri Tjoei Lan (manusia), anak hartawan Kho Tay Kong. Karena anak mereka lahir berupa babi, Kho Tay Kong mengusir sang menantu. Pat Kai lari bersama Tjoei Lan. Kho Tay Kong meminta tolong pada Tong Sam Tjong dan muridnya, Kha See Thian untuk mengejar mereka. Karena gagal menyamar sebagai Tjoei Lan, lalu Tong Sam Tjong mengubah diri menjadi siluman ular, yang lantas melilit siluman babi. Pat Kai menyerah, dan sedia mengembalikan Tjoei Lan kepada Kho Tay Kong.

LIMA SILOEMAN TIKOES / 1936

LIMA SILOEMAN TIKOES

JAVA INDUSTRIAL FILM

Seorang isteri jadi bingung karena tiba-tiba suaminya ada dua dan ia tidak bisa membedakan mana yang asli. Salah satu lelaki yang bukan suaminya adalah siluman tikus yang menyamar menjadi manusia. Untunglah datang pertolongan dari dewa Djie Lay Hoed, yang mengirim seekor kucing wasiat seukuran harimau uantuk memberantas kelima siluman tikus. 

ROESIA SI PENGKOR (hadji Saleh) / 1939

ROESIA SI PENGKOR
HADJI SALEH
 JAVA INDUSTRIAL FILM
 HADIDJAH
BISSU
DA'ING



Adaptasi roman berjudul "Hadji Saleh".
Haji Saleh mengasingkan diri ke suatu gunung yang dianggapnya suci, sementara istri dan anaknya, Suti, tetap tinggal di Tangerang. Sebagai "kembang kampung", Suti banyak diminati pemuda, walau cuma Saari yang berkenan di hatinya. Gara-gara mencintai Suti, Saari masuk penjara. Ia dufitnah Lihin, temannya sendiri. Setelah bebas, karena ternyata tak bersalah, Saari masih menghadap saingan lain, Usin. Terjadi perkelahian seru dalam merebut dan mempertahankan Suti. Akhirnya Saari menang. Baru belakangan diketahui bahwa Suti sering terhindar dari bahaya berkat pertolongan si Pengkor alias Haji Saleh, ayahnya sendiri.

ALANG-ALANG / 1939



Pada penghujung 1939 The Teng Chun masih saja meraba-raba, nampaknya ia ingin menggabungkan kiat cerita dari Terang Boelan dan film-film Tan's. Sementara itu orientasinya adalah film-film aksi petualangan Amerika, maka muncul produksi JIF Alang-Alang yang disebut Jungle Film Pertama jang dibikin di Indonesia. Idenya muncul dengan tiba-tiba The Teng Chun ketika sedang mereka-reka cerita saat itu ada kabar sirkus Hong Kong akan main di Batavia. Ia langsung memanfaatkannya. Karena film Tarzan saat itu sedang populer dan digemari. Pad a saat film Alang-Alang diputar, bersamaan juga diputarnya film East of Borneo pada iklannya ditulis Lihat itu pergulatan hebat yang mengambil korban antara satu macan tutul yang buas kontra satu anak bumi yang justru gendeng...Ini ada salah satu moment yang paling menggembirakan dari gambar ini. Dan kebetulan pemilik sirkus Hong Kong ini setuju hewannya dikontrak untuk shooting, tapi hanya satu bulan saja, sehingga Chung harus shooting cepat.

Cerita ini separuh meniru Fatima, yakni komplotan bandit yang melarikan diri ke pulau Muntaro dan sebagian lain film Tarzan. Akan tetapi tokoh Suhiyat ketika berada di hutan mengenakan semacam celana pendek saja, bukan baju seperti Tarzan.

Teng Chun juga sudah mulai menyadari betapa pentingnya posisi pemain dalam sebuah film. Ia memerlukan pemain yang gesit seperti Tarzan dan ganteng seperti Rd Mochtar. Ia tidak mencari dari pemain populer di dunia pentas. Chun menemukannya di tukang cukur namanya Mohammad Mochtar, tubuhnya kecil tapi ganteng, gesit dan berani naik gajah. Pasangan Moh.Mochtar dan Hadidjah mulai menarik perhatian. Sesudah film ini beredar pada awal 1940, orang menjuluki Moh.Mochtar sebagai Tarzan Van Java.
Lagu-lagu yang dinyanyikan dalam film ini sudah mulai dikarang khusus oleh M.Sardi dan dimainkan oleh JIF Orchestra yang dipimpin Sardi. Penyanyi-penyanyi keroncong seperti Miss.Riboet dari Tegal dan Miss.Brintik mulai disertakan. Meskipun belum secemerlang Annie Landouw atau Luis Koch, tetapi mereka cukup terkenal.
Penggarapan film Alang-Alang ini agak serabutan akibat harus mengejar waktu karena jarak kontrak binatang yang singkat itu. Ada juga gangguan lainnya yang membuat shooting tidak lancar, misalnya hujan. Ia mengebut sedapatnya saja, terutama memanfaatkan sebanyak mungkin hewan-hewan sirkus karena sewanya tinggi. Ternyata perhatian penonton pada film ini tidak mengecewakan. Sukses film ini membuka mata para pemilik modal mengenai kemungkinan (feasibility) usaha pembuatan film masa itu.
Demikian dengan Terang Boelan yang disusul Fatima dan Alang-alang produksi film telah menemukan penontonnya. Masa percobaan telah berakhir, film Indonesia akan terus diproduksi, tetapi proses pendewasaan, dari sudut komersial, teknis dan estetik tetap merupakan masalah.



















 
Alang-alang (M.Mochtar/hadijah & Gajah) M.Mochat, binatang action baru, lewat film ini dijuluki "Tarzan van Java" dan Hadijah sebagai "Jungle Women/queen"

Alang-alang
Ketika sedang memeriksa kebun kelapanya, Suhiyat (Moch. Mochtar), anak orang kaya yang hidupnya hanya berfoya-foya, melihat Surati (Hadidjah) digoda Rainan (Bissu). Ia membantu Surati. Pertolongan ini membuat janda Rasmina (Lena), yang diincar oleh Karta (Moesa), cemburu karena dia manaruh hati pada Suhiyat. Karena saki hati, lalu Rasmina memberi uang Rainan untuk melarikan Surati, yang memang dicintainya. Di tengah perjalanan, Rainan terpisah dari Surati, yang selanjutnya tinggal di rimba dan menjadi sahabat para binatang. Sahabat inilah yang menolong Suarti dari serangan anak buah Rainan yang penasaran. Sementara itu Suhiyat terus mencari Surati dan akhirnya berhasil mendapatkannya di hutan. Ia membebaskan Surati dari cengkeraman gerombolan Rainan. Rasmina menyesal, insyaf dan kembali kepada Karta, bekas suaminya

RENTJONG ATJEH / 1940

RENTJONG ATJEH



adalah cerita karangan Ferry Kock, mengenai bajak laut untuk difilmkan. Ferry dan Dewi Mada main didampingi oleh Moh.Mochtar, Hadidjah dan Bissoe. Bahkan awalnya sutradara di percayakan pada Ferry Kock tapi ia tidak mampu sehingga diambil alih lagi oleh Teng Chun. Pembuatan film ini mengalami kusiltan. Pada tahun 1940 Hindia Belanda dalam keadaan siap perang melawan serbuan Jepang, pemerintah Belanda tidak mengijinkan shooting di laut. Sehingga perahu perampok yang sudah disewa hanya parkir saja di muara sungai, daerah teluk Gong Batavia. Perubahan yang mengacau pada cerita di buat, kekurangan adegan terpaksa diisi stockshot sisa-sisa film Alang-alang. Dan Ferry Kock tidak sehebat yang dibayangkan. Ia dinilai kurang tepat memerankan tokoh panglima.

Berharap dapat penghargaan dari penonton kelas atas, film ini satu model dengan Zoebaida, sebahagian adegannya berlangsung dihutan, mungkin disekitar Aceh. Yang penting hutan itu terasa asing sekali. Adat istiadat penduduknya sangat primitif sekali, seperti dikepulauan Hawaii seperti gambaran film Hollywood. Judul Rentjong Atjeh hanya buat sensasi saja sama seperti judul Kris Mataram, karena tidak ada hubungannya dengan budaya Aceh atau Mataram. Rentjong itu senjata yang dipakai untuk berkelahi dengan kepala Bandit. Tokoh utamanya menggigit pisaunya sama seperti film Tarzan yang buatan Hollywood kalau sedang berayun atau berenang mengejar Buaya.
 JAVA INDUSTRIAL FILM

DEWI MADA
FERRY KOCK
MOH MOCHTAR
HADIDJAH
BISSU

Dari dulu Teng Chun ingin membuat film untuk bisa mendapat simpati penonton atas, maka ketika suami istri mantan anggota Dardanella, Ferry Kock dan Dewi Mada, mereka adalah Indo yang cukup berpendidikan.

Beberapa lagu ciptaan M.Sardi untuk film ini diterbitkan dalam bukunya oleh Departement musik JIF. Lgu tersebut adalah Oh, Ajah dan Iboekoe yang dinyanyikan oleh Ferry Kock. Lagu Indah dinyanyikan oleh Dewi Mada, Akoe Ta'Sangkah oleh Hadidjah, dan Hoera-hoera oleh Koor. Dan lagu-lagu itu juga di siarkan oleh NIROM 2 (Siaran Radio Hindia Belanda). SEmua dinyanyiukan oleh pemain dalam film itu dan diiringi oleh JIF Orcherstra dibawah pimpinan M.Sardi.

Dalam publisiti menonjolkan Ferry Kock dan Dewi Maya, Teng Chun banyak belajar dari Andjar Asmara dalam hal betapa pentingnya Publisiti. Dan dilakukan publisi yang besar untuk film ini yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Beberapa kali pemainnya harus ikut RoadShow ke tiap daerah untuk pemutaran film ini, sambutan luarbiasa karena dalam publisi ini menekankan dua bintang ini. Rentjong Atjeh yang pembuatannya tersendat karena situasi dan kurang baik, bisa Box Office.

13 Agustus 1940 pemutaran perdana film ini di Rex Theater, pers mengkritik berbagai kekurangan sampai yang kecil-kecil, Meski disampaikan pers secara lembut, ketidak telitian set rumah kepala perampok karena rumahnya dari gubuk tapi lantainya dari ubin. Walaupun hanya sedikit tetapi ceritanya bagus, sama seperti film Alang-alang. Ada pun pakaian tidak sesuai kecuali kepala perampok.

Lokasi shoting